MEDIA DIALOG NEWS, Jakarta — Jamaah Masjid Jami Nurul Iman Perumahan Pulo Gebang Permai menyambut antusias kegiatan Safari Dakwah bersama Ustadz Handy Bonny. Semangat dan ghirah warga terlihat dari padatnya jemaah yang menghadiri kajian bertajuk TalkNight tersebut.
Kajian ini utamanya menyasar kaum muda dengan harapan tongkat estafet dakwah tidak terhenti pada peringatan Hari Besar Islam saja. Dalam tausiahnya, dai muda ini mengupas secara singkat bagaimana gerakan dakwah Baginda Rasulullah SAW dibangun dengan sistem bertahap namun terukur.
Ustadz Handy Bonny menjelaskan, saat hijrah pertama kali, Nabi Muhammad SAW membangun Masjid Quba, yang kemudian dilanjutkan dengan Masjid Nabawi. Model ini lalu ditransformasikan di Nusantara oleh para ulama yang pernah menimba ilmu di Makkah dengan mendirikan Masjid Agung. Kebanyakan Masjid Agung dibangun tepat di depan alun-alun.
“Dulu, orang-orang pintar lahir dari masjid. Sebab, masjid bukan sekadar tempat beribadah menghadap Allah, melainkan juga tempat bermusyawarah, menimba dan berbagi ilmu, serta merumuskan pemecahan masalah demi kemajuan umat,” tegasnya.
Menjawab pertanyaan mengenai alasan anak muda yang makin jarang ke masjid, Ustadz Handy Bonny menilai hal tersebut sebagai tantangan bagi para pengurus masjid (BKM). Pengurus dituntut untuk lebih aktif mendayagunakan potensi yang ada serta melibatkan pemuda dalam kegiatan belajar-mengajar sesuai sarana dan prasarana yang tersedia.
Ia menekankan pentingnya mengembalikan fungsi masjid sebagai Baitullah yang nyaman untuk beriman, sekaligus sebagai Baitulmal untuk menggerakkan roda ekonomi umat.
“Potensi zakat saat ini baru terserap sekitar 10 persen. Jika setiap hari jamaah menabung seribu atau dua ribu rupiah selama 30 hari dan dikalikan puluhan jamaah aktif, akan terkumpul dana segar yang dapat dikelola. Hal ini diharapkan mampu menjadi benteng perlawanan terhadap praktik riba, seperti rentenir dan pinjaman online (pinjol),” terangnya.
Selain itu, fungsi Baitul Muamalah diperkirakan dapat berjalan sebagai sarana pembangunan ekonomi umat secara syariah. Masjid juga berperan sebagai Baitul Tarbiyah, yaitu tempat pendidikan seperti kursus bahasa Inggris maupun bahasa Arab.
Di sisi lain, ia juga menyoroti masalah pengasuhan anak. Menurutnya, Indonesia saat ini mengalami “kekurangan Vitamin A”—artinya, keluarga kekurangan waktu berkomunikasi dan ngobrol bersama sosok Ayah.
“Kunci sukses mendidik anak adalah ketika suami dan istri memprioritaskan keluarga. Mengapa untuk urusan kantor kita bisa meeting berjam-jam, tetapi untuk keluarga tidak?” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Indonesia tidak kekurangan ustadz, melainkan kekurangan dai. Banyak anak muda kekurangan sosok pendamping, baik sebagai kakak maupun sahabat tempat mencurahkan isi hati (curhat), sehingga akhirnya memilih berpacaran sebagai media berbagi. Oleh karena itu, masyarakat diimbau merangkul kaum muda agar mereka merasa bahagia dan bangga aktif di masjid.
Melalui pelatihan ilmu pengetahuan dan olahraga bermanfaat, masyarakat diharapkan makin pintar serta saling berkontribusi memakmurkan masjid.
“Kebangkitan umat Islam paling ditakuti ketika masjid-masjid dipenuhi oleh anak muda. Mari kita tingkatkan keikhlasan dalam bersedekah, mempererat silaturahmi, serta mengedepankan kiprah pemuda sebagai persiapan estafet kepemimpinan di lingkungan kita,” pungkasnya. (Nanang Husnie)













