KETIKA ATURAN MENGALAHKAN KEMANUSIAAN

MEDIA DIALOG NEWS — Ada kalanya persoalan di tempat kerja tidak lagi berhenti pada soal aturan, jam kerja, atau kedisiplinan. Ada saat ketika seorang pemimpin harus berhadapan dengan sesuatu yang tidak tercantum secara rinci dalam lembar absensi: kemanusiaan.

Peristiwa sederhana di sebuah lingkungan kerja memperlihatkan dilema tersebut.

Seorang pekerja mendapat kabar duka. Mertuanya meninggal dunia. Ia tentu ingin datang ke rumah duka. Seorang rekannya yang kebetulan tinggal serumah bersedia mengantarkannya.

Bagi sebagian orang, keputusan itu mungkin tidak perlu diperdebatkan. Seorang teman mengantarkan temannya yang sedang berduka adalah bentuk solidaritas yang sangat sederhana.

Namun, persoalan menjadi berbeda ketika keputusan tersebut dilihat semata-mata dari sudut pandang operasional.

Ketika informasi mengenai keberadaan dua pekerja itu disampaikan kepada pimpinan, muncul pertanyaan: mengapa rekan tersebut harus ikut mengantarkan? Mengapa tidak diarahkan menggunakan kendaraan sewaan yang biasa digunakan perusahaan?

Pertanyaan itu mungkin masuk akal jika dilihat dari perspektif efisiensi.

Tetapi ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:

Apakah seluruh persoalan manusia di tempat kerja harus selalu diselesaikan dengan logika efisiensi?

Di sinilah kepemimpinan diuji.

 

Ketika HRD Berada di Tengah

Bagi seorang HRD, persoalan seperti ini bukan perkara sederhana.

HRD memang bertugas menjaga disiplin, memastikan aturan berjalan, mengendalikan administrasi ketenagakerjaan, serta menjaga agar operasional perusahaan tetap efektif.

Tetapi HRD juga berhadapan langsung dengan manusia.

Pekerja bukan sekadar nama dalam daftar absensi. Mereka memiliki keluarga, memiliki persoalan pribadi, mengalami kegembiraan, sakit, kehilangan, bahkan berduka.

Karena itu, HRD sering berada di sebuah ruang yang penuh tarik-menarik kepentingan.

Di satu sisi ada tuntutan perusahaan agar segala sesuatu berjalan tertib dan efisien.

Di sisi lain ada kebutuhan manusia yang tidak selalu dapat dimasukkan ke dalam angka dan tabel.

Pada titik seperti inilah pertanyaan tentang fungsi HRD menjadi penting:

Apakah HRD hanya bertugas memastikan aturan dijalankan, atau juga memiliki ruang untuk menggunakan pertimbangan kemanusiaan?

Jika setiap persoalan hanya dijawab dengan kalimat “aturan adalah aturan”, HRD memang mungkin terlihat tegas.

Tetapi ketegasan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi kekakuan.

Dan kekakuan yang terus-menerus dapat membuat pekerja merasa bahwa perusahaan tidak lagi melihat mereka sebagai manusia, melainkan hanya sebagai tenaga kerja.

 

Disiplin Penting, Tetapi Empati Juga Penting

Tidak ada organisasi yang dapat berjalan tanpa aturan.

Perusahaan membutuhkan disiplin. Pekerja harus bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Operasional harus tetap berjalan. Bahkan keputusan yang terlihat kecil sekalipun terkadang mempunyai konsekuensi terhadap produksi.

Karena itu, persoalannya bukan memilih antara disiplin atau kemanusiaan.

Persoalannya adalah bagaimana keduanya ditempatkan secara proporsional.

Disiplin diperlukan agar organisasi tidak berubah menjadi kekacauan.

Empati diperlukan agar organisasi tidak berubah menjadi mesin yang hanya mengenal target.

Pemimpin yang baik seharusnya mampu membedakan antara pelanggaran yang mengancam kepentingan perusahaan dengan situasi kemanusiaan yang membutuhkan kebijaksanaan.

Sebab memperlakukan seorang pekerja yang sengaja meninggalkan pekerjaan tanpa alasan dengan memperlakukan seseorang yang sedang menghadapi kedukaan tentu tidak seharusnya menggunakan ukuran yang sama.

Keadilan bukan selalu berarti memperlakukan semua keadaan dengan cara yang sama.

Kadang-kadang keadilan justru berarti memahami bahwa setiap keadaan memiliki konteks yang berbeda.

 

Ketika Aturan Menjadi Lebih Besar daripada Tujuannya

Masalah mulai muncul ketika aturan tidak lagi menjadi alat untuk mencapai tujuan organisasi, tetapi justru menjadi tujuan itu sendiri.

Perusahaan akhirnya sibuk menghitung berapa menit seseorang meninggalkan tempat kerja, tetapi lupa bertanya mengapa ia harus meninggalkan tempat kerja.

Perusahaan sibuk mencari siapa yang harus disalahkan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, tetapi lupa bertanya bagaimana persoalan tersebut dapat diselesaikan.

Dalam kondisi seperti itu, pekerja perlahan belajar satu hal:

Jangan mengambil keputusan. Jangan berinisiatif. Jangan terlalu banyak bicara. Yang penting jangan salah.

Budaya seperti ini mungkin terlihat tertib dari luar.

Namun, di dalamnya dapat tumbuh ketakutan.

Pekerja menjadi lebih sibuk menghindari kesalahan daripada mencari solusi. Atasan menjadi lebih sibuk mengawasi daripada membimbing. Sementara HRD perlahan kehilangan fungsi sebagai jembatan komunikasi karena lebih sering dipersepsikan sebagai perpanjangan tangan kekuasaan.

Jika keadaan ini berlangsung lama, organisasi bukan hanya kehilangan empati.

Ia juga berisiko kehilangan kepercayaan.

 

Pemimpin Tidak Hanya Mengatur Pekerjaan

Kepemimpinan pada akhirnya bukan hanya persoalan siapa yang mempunyai kewenangan memberikan perintah.

Kepemimpinan adalah kemampuan menggunakan kewenangan tersebut secara bijaksana.

Seorang pemimpin memang berhak meminta pertanggungjawaban. Ia berhak menuntut disiplin. Ia bahkan harus berani mengambil keputusan yang tidak selalu menyenangkan.

Tetapi kewenangan akan kehilangan maknanya jika setiap persoalan diselesaikan hanya dengan tekanan.

Pemimpin yang kuat bukan pemimpin yang membuat semua orang takut.

Pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang membuat orang memahami mengapa sebuah keputusan harus diambil—dan pada saat yang sama mampu menunjukkan bahwa manusia di balik pekerjaan itu tetap dihargai.

Sebab loyalitas tidak selalu lahir dari rasa takut terhadap atasan.

Sering kali loyalitas justru tumbuh dari pengalaman sederhana:

“Ketika saya berada dalam keadaan sulit, perusahaan memperlakukan saya sebagai manusia.”

 

HRD dan Dilema yang Tidak Pernah Sederhana

Dalam praktiknya, HRD sering menjadi pihak yang paling mudah disalahkan.

Ketika disiplin longgar, HRD dianggap tidak tegas.

Ketika aturan terlalu keras, HRD dianggap tidak manusiawi.

Ketika pekerja menyampaikan keluhan, HRD berada di tengah.

Karena itu, HRD membutuhkan ruang untuk menjalankan fungsi profesionalnya dengan pertimbangan yang sehat.

HRD bukan sekadar petugas administrasi personalia.

HRD seharusnya menjadi salah satu penjaga keseimbangan organisasi: memastikan kepentingan perusahaan terlindungi tanpa menghilangkan martabat pekerja.

Tentu, ruang kebijaksanaan tidak boleh berubah menjadi pembiaran. Empati bukan berarti semua permintaan harus disetujui. Kemanusiaan juga bukan alasan untuk mengabaikan aturan.

Justru di sinilah kualitas seorang pemimpin dan profesional HRD terlihat:

mampu mengatakan “tidak” ketika memang harus mengatakan tidak, tetapi juga mampu mengatakan “silakan” ketika keadaan memang membutuhkan kemanusiaan.

 

Pertanyaan yang Lebih Besar

Peristiwa tentang seorang pekerja yang hendak menghadiri rumah duka mungkin terlihat kecil.

Tidak ada mesin yang berhenti.

Tidak ada target produksi yang hilang dalam jumlah besar.

Tidak ada kerugian perusahaan yang dapat langsung dihitung dalam rupiah.

Tetapi peristiwa kecil seperti ini dapat memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih besar tentang karakter sebuah organisasi.

Ketika seorang pekerja sedang berduka, apakah yang pertama kali muncul dalam pikiran pemimpin adalah “bagaimana menjaga manusia ini?” atau “bagaimana memastikan dia tetap memenuhi hitungan operasional?”

Jawaban atas pertanyaan itu menunjukkan nilai apa yang sebenarnya hidup di dalam organisasi.

Karena perusahaan pada akhirnya bukan hanya kumpulan target, laporan, mesin, kendaraan, absensi dan angka produksi.

Perusahaan adalah kumpulan manusia yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama.

Dan manusia, sesempurna apa pun sistem yang dibuat untuk mengaturnya, tetap memiliki hati.

Maka mungkin sudah waktunya para pemimpin bertanya kepada dirinya sendiri:

Ketika aturan berhadapan dengan kemanusiaan, apakah saya cukup bijaksana untuk mengetahui kapan harus menegakkan aturan dan kapan harus memberi ruang kepada manusia?

Sebab jika sebuah organisasi mampu menghitung setiap menit kerja, tetapi tidak mampu menghargai satu momen ketika seseorang sedang berduka, mungkin persoalannya bukan lagi tentang kedisiplinan. Mungkin yang sedang hilang adalah kemanusiaan itu sendiri. (Edi Prayitno)

Related posts
Tutup
Tutup