Kisah Pangulu Siregar: Anak Tukang Parkir Kuda yang Kini Menjaga Suara Rakyat di KPU Asahan

MEDIA DIALOG NEWS – Tidak semua perjalanan menuju sebuah jabatan dimulai dari ruang berpendingin udara, meja kerja yang nyaman, atau kemudahan akses pendidikan. Sebagian justru berawal dari tanah becek, rumput yang dipikul di atas kepala, bau darah kambing pada dini hari, dan kemudi becak bermotor yang ditarik hingga menjelang malam.

Pangulu Siregar pernah menjalani semuanya.

Jauh sebelum mengenakan atribut penyelenggara pemilu, ia adalah seorang anak desa di Sipiongot yang harus bekerja untuk membantu orang tuanya. Ketika anak-anak seusianya menghabiskan waktu dengan bermain, Pangulu justru memikul rumput untuk makanan kuda dan menjaga lahan parkir kuda milik keluarganya.

Saat itu, ia masih bersekolah di SLTP Negeri 1 Dolok.

Setiap hari Senin dan Selasa, ketika pekan berlangsung, lahan milik orang tuanya digunakan masyarakat untuk memarkirkan kuda. Tanggung jawab menjaga kuda-kuda titipan tersebut menjadi bagian dari pekerjaan Pangulu. Sepulang sekolah, ia harus mencari rumput terlebih dahulu agar kuda-kuda itu tidak kelaparan.

Pekerjaan itu bukan pilihan yang lahir dari keinginannya sendiri. Keadaan keluarga yang sederhana membuatnya harus ikut membantu.

“Jujur, iri sekali. Mereka main bola, main kelereng, saya pikul rumput. Tapi saya tidak pernah protes sama orang tua. Saya tahu, orang tua saya bukan orang kaya. Saya harus bantu,” kenangnya.

Dari pekerjaan sederhana itu, Pangulu memperoleh upah Rp500 untuk setiap ekor kuda yang diparkirkan. Jumlah yang mungkin terlihat kecil, tetapi pada masa itu memiliki arti besar bagi seorang pelajar yang ingin memenuhi kebutuhan sekolahnya sendiri.

Uang pertama yang ia kumpulkan digunakan untuk membeli buku tulis dan pensil. Bahkan, harga satu buku tulis saat itu mencapai Rp750. Artinya, ia harus menjaga sedikitnya dua ekor kuda untuk bisa membeli satu buku.

“Kalau sehari hanya satu kuda yang parkir, saya hanya dapat Rp500, tidak cukup beli buku,” tuturnya.

Keterbatasan tidak berhenti pada buku tulis. Sepatu sekolahnya pernah jebol dan dijahit menggunakan kawat. Ketika tidak memiliki uang untuk membeli tas, ia membawa buku-bukunya menggunakan kantong plastik.

Ia tidak memaksakan keinginannya kepada orang tua. Jika uang belum cukup, ia memilih menunggu pekan berikutnya.

“Saya belajar menunda keinginan. Kalau tidak ada uang hari ini, ya tidak usah beli dulu. Itu pelajaran yang sampai hari ini saya bawa di KPU: kalau anggaran tidak ada, jangan dipaksakan.”

Dini Hari, Pisau, dan Bau Darah Kambing

Memasuki SMA di Kisaran pada 1999, perjuangan Pangulu tidak menjadi lebih ringan. Justru, tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikannya semakin besar.

Setiap hari sekitar pukul 03.30 dini hari, ketika sebagian besar orang masih terlelap, Pangulu sudah harus bekerja sebagai pemotong kambing. Pekerjaan itu berlangsung sebelum ia berangkat sekolah pukul 07.30.

Pengalaman pertamanya tidak mudah. Ia masih remaja, tetapi harus berhadapan dengan pisau, darah, dan hewan yang disembelih.

“Pengalaman pertama itu… muntah saya. Jujur. Jam 03.30 pagi buta, udara dingin, saya harus pegang pisau. Kambing itu mengembik, darahnya hangat muncrat ke tangan saya, ke baju saya. Bau amisnya… sampai sekarang saya masih ingat,” ungkapnya.

Ia mengaku takut, jijik, bahkan tangannya sempat gemetar ketika memegang pisau. Namun, keadaan tidak memberinya banyak pilihan.

Seorang pekerja senior pernah mengatakan kepadanya, “Kalau kau tidak potong, kau tidak sekolah hari ini.”

Kalimat itu menjadi pengingat bahwa pekerjaan tersebut bukan sekadar cara memperoleh uang, melainkan salah satu jalan agar ia tetap bisa melanjutkan pendidikan.

Setelah pulang sekolah, pekerjaan berikutnya telah menunggu. Pangulu menarik becak bermotor hingga menjelang Magrib.

Ada satu pengalaman yang masih membekas hingga sekarang. Suatu hari, penumpang becaknya ternyata teman sekolahnya sendiri. Mereka mengenakan seragam yang sama, tetapi berada dalam posisi yang berbeda: satu duduk sebagai penumpang, sementara yang lain menjadi pengemudi becak.

“Dia kaget lihat saya, saya juga malu. Tapi dia diam saja, saya juga diam. Sampai tujuan, dia bayar Rp2.000. Uang itu saya pegang, tangan saya gemetar. Malu dan butuh, campur aduk,” ceritanya.

Di balik kemudi becak, Pangulu juga berusaha mempertahankan pendidikannya. Ketika menunggu penumpang di pangkalan, ia membuka buku pelajaran. Malam harinya, setelah bekerja hingga menjelang Magrib, ia kembali belajar meskipun tubuhnya sudah kelelahan.

“Saya cuci kaki, saya buka buku tulis yang bau kambing dan bensin. Saya belajar sampai jam 11 malam, kadang ketiduran di atas buku.”

Ia menyadari bahwa pendidikan merupakan salah satu jalan untuk mengubah keadaan hidupnya.

“Karena saya tahu, satu-satunya jalan keluar dari becak itu adalah sekolah.”

Nyaris Menyerah, Tetapi Tidak Berhenti

Perjalanan tersebut bukan tanpa titik keputusasaan. Ketika duduk di kelas II SMA, Pangulu pernah merasa tidak sanggup lagi menjalani rutinitas yang menguras tenaga.

Pagi bekerja memotong kambing, siang mengikuti pelajaran, dan sore menarik becak. Tubuhnya semakin kurus dan ia kerap mengalami demam.

Pada suatu kesempatan, ia menyampaikan keinginannya kepada orang tua untuk berhenti sekolah dan bekerja menarik becak secara penuh.

Namun, jawaban ayahnya justru menjadi salah satu kalimat yang paling membekas sepanjang hidupnya.

“Kalau kau berhenti sekarang, kau akan narik becak seumur hidup. Kalau kau lanjut, mungkin suatu hari kau tidak narik becak lagi, tapi kau yang akan mengatur becak itu parkir di mana.”

Dorongan lain datang dari Derhinun, perempuan yang kini menjadi istrinya. Saat itu, Derhinun masih menjadi kekasihnya.

“Jangan berhenti, saya mau lihat kau pakai toga,” kata Derhinun kepadanya.

Dua kalimat sederhana dari orang-orang terdekat itu membuat Pangulu mengurungkan niatnya untuk berhenti sekolah.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Asahan (UNA), mengambil pendidikan sarjana pada 2003–2008. Pada masa awal kuliah, ia masih menarik becak bermotor. Setelah itu, ia bekerja sebagai pegawai notaris pada 2004–2005.

Dari seorang anak yang dahulu harus mengumpulkan uang Rp500 untuk membeli buku tulis, Pangulu mulai membangun jalan hidup melalui pendidikan dan pengalaman organisasi.

Dari Ruang Organisasi Menuju Dunia Kepemiluan

Di lingkungan kampus, Pangulu aktif dalam organisasi mahasiswa. Ia pernah menjabat Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum UNA periode 2004–2006 dan Ketua Umum HMI Komisariat UNA periode 2005–2006.

Menariknya, ia mengaku bahwa keterlibatannya dalam organisasi pada awalnya bukan karena ambisi untuk menjadi pemimpin.

“Saya aktif organisasi bukan karena mau jadi ketua. Saya aktif karena saya minder. Saya anak tukang parkir kuda Rp500, anak tukang potong kambing, saya merasa tidak punya apa-apa di kampus. Satu-satunya modal saya adalah suara. Saya bisa bicara.”

Organisasi menjadi ruang pembelajaran baginya. Ia belajar berbicara di depan umum, berdebat, menghadapi perbedaan pendapat, dan memahami cara kerja kepemimpinan.

Pengalaman menghadapi konflik dan perdebatan dalam organisasi membentuk pandangannya tentang seorang pemimpin.

“Pelajaran terbesar saya: memimpin itu bukan soal menyuruh orang, tapi soal mendengarkan orang yang paling kecil suaranya. Karena saya pernah jadi orang kecil itu.”

Perjalanan pengabdiannya tidak berhenti di lingkungan kampus. Pada 2009–2018, ia tercatat sebagai tenaga honorer SP3 di lingkungan Pemerintah Kabupaten Asahan. Sejak 2017, ia juga menjalani profesi sebagai advokat.

Namun, salah satu perjalanan terpanjang dalam kehidupannya adalah keterlibatan di dunia kepemiluan.

Pangulu mulai menjadi penyelenggara pemilu pada 2005, dari tingkat paling bawah sebagai anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Selanjutnya, ia pernah bertugas sebagai Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), terlibat dalam Panwas, menjadi staf Panwaslu, serta Tim Verifikasi Partai Politik.

Dua dekade bukan waktu yang singkat. Ia mengaku pernah menerima honor hanya Rp300 ribu sebulan ketika menjadi PPK. Ia juga harus berjalan kaki dari desa ke desa membawa dokumen dan menghadapi berbagai keterbatasan dalam menjalankan tugas.

“Saya pernah jadi PPK dengan honor Rp300 ribu sebulan, jalan kaki dari desa ke desa bawa dokumen. Pernah hujan-hujan bawa kotak suara bocor.”

Tantangan terbesar, menurutnya, bukan hanya persoalan teknis penyelenggaraan pemilu, melainkan juga pandangan sebagian orang yang meremehkan latar belakang kehidupannya.

Ia pernah mendengar komentar yang mempertanyakan kemampuannya menjadi penyelenggara pemilu karena masa lalunya sebagai penarik becak.

Namun, ia memilih menjawab keraguan tersebut melalui pekerjaan. Ia mengaku tidak pernah absen mengikuti bimbingan teknis dan terus mempelajari peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemilu.

Perjalanan panjang itu akhirnya membawanya pada kepercayaan baru. Pada 2023, Pangulu dilantik menjadi Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Asahan untuk periode 2023–2028.

Dua puluh tahun setelah memulai pengabdian dari tingkat paling bawah, ia akhirnya duduk sebagai salah satu penyelenggara pemilu di tingkat kabupaten.

“20 tahun saya menunggu palu itu,” ujarnya.

Rp500 dan Prinsip Menjaga Suara Rakyat

Pengalaman panjang di dunia kepemiluan juga mempertemukannya dengan berbagai situasi yang menguji integritas.

Pangulu mengaku pernah menghadapi upaya pemberian uang ketika bertugas sebagai PPK dan Panwas. Ia menyebut ada pihak yang datang membawa amplop dengan maksud memengaruhi pengelolaan suara.

“Ada yang datang bawa amplop, bilang, ‘Ini untuk rokok, tolong atur-atur lah suaranya.’ Saya tolak.”

Ia tidak ingin menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk membenarkan penyimpangan. Sebaliknya, pengalaman hidup yang penuh keterbatasan justru menjadi pengingat tentang nilai kejujuran.

“Bukan karena saya suci, tapi saya ingat Rp500 parkir kuda itu. Saya dulu menjaga kuda orang lain dengan jujur, masak sekarang saya menjaga suara 500 ribu orang saya khianati demi amplop?”

Bagi Pangulu, menjaga amanah bukan hanya persoalan menjalankan aturan atau menghindari pelanggaran hukum. Ada tanggung jawab moral yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan keluarga.

“Kalau saya terima uang itu hari ini, anak saya akan makan uang haram. Saya tidak mau. Saya lebih baik dimusuhi orang, daripada dikutuk anak saya kelak.”

Ia bahkan menggunakan perumpamaan yang berangkat dari pengalaman masa kecilnya untuk menjelaskan tugas penyelenggara pemilu.

“Kita ini penjaga parkir suara rakyat. Jangan curi suara orang.”

Perumpamaan itu menggambarkan bagaimana pengalaman menjaga kuda-kuda titipan orang lain di masa kecil menjadi bagian dari cara Pangulu memahami amanah dalam pekerjaannya sekarang.

Ketika dilantik sebagai Anggota KPU Kabupaten Asahan, ia mengaku tidak hanya mengingat gedung dan jabatan yang akan diembannya. Ingatannya justru kembali kepada lahan parkir kuda di Sipiongot, tangan yang pernah terluka karena sabit, baju yang berbau darah kambing, dan stang becak yang pernah menjadi teman perjuangannya.

“Waktu dilantik, saya nangis. Di dalam hati, bukan di luar. Yang saya ingat pertama kali bukan gedung KPU, tapi lahan parkir kuda di Sipiongot itu.”

Ia kemudian menghubungi orang tua dan istrinya.

“Mak, Pak, anakmu yang dulu parkir kuda Rp500 itu sekarang dilantik jadi Anggota KPU,” demikian bisikan yang ia ceritakan sebagai ungkapan syukur dalam hati.

Bagi dirinya, jabatan bukanlah puncak pencapaian, melainkan kepercayaan yang harus dijaga.

“Jabatan ini bukan puncak, ini titipan. Sama seperti kuda orang dulu dititipkan di lahan orang tua saya.”

Di Balik Perjalanan Itu, Ada Pengorbanan Seorang Istri

Di balik perjalanan Pangulu, ada sosok Derhinun Harahap, S.Pd., istrinya yang selama ini menyaksikan berbagai fase kehidupannya.

Derhinun mengenal Pangulu ketika ia masih menarik becak. Bahkan, ia pernah ikut mendorong becak ketika kendaraan itu mogok.

“Dia kenal saya dari saya masih narik becak. Dia pernah saya bonceng becak, becak saya mogok, dia dorong dari belakang. Tidak pernah malu.”

Pengorbanan Derhinun tidak berhenti pada dukungan moral. Ketika Pangulu menempuh pendidikan S1 Hukum sambil bekerja sebagai pegawai notaris, kondisi ekonomi mereka masih terbatas. Keduanya sama-sama bekerja dengan penghasilan yang tidak besar. Pangulu bekerja sebagai pegawai notaris, sementara Derhinun merupakan guru honorer.

Untuk membayar biaya kuliah dan wisuda, Derhinun bahkan harus menjual cincin emas miliknya.

“Untuk bisa bayar uang kuliah dan biaya wisuda, istri saya jual cincin emasnya. Saya nangis semalaman.”

Dukungan itu terus berlanjut hingga Pangulu menempuh pendidikan Magister Hukum. Ia mengaku istrinya tetap mendampinginya, bahkan membantu ketika ia mengerjakan tesis hingga larut malam.

“Tanpa dia, tidak ada Pangulu Siregar di KPU.”

Kini, pasangan tersebut dikaruniai tiga orang putra. Anak pertama duduk di kelas XII SMA, anak kedua kelas X SMA, dan anak bungsu kelas V SD.

Pangulu tidak menyembunyikan masa lalunya dari anak-anak. Ia justru sering mengajak mereka ke Sipiongot untuk memperlihatkan tempat-tempat yang menjadi bagian dari perjuangannya.

Ia menunjukkan tempat dahulu mencari rumput dan menjaga parkir kuda, sekaligus menceritakan bagaimana uang Rp500 dikumpulkan untuk membeli buku tulis.

Baginya, warisan terpenting bagi anak-anak bukanlah harta benda.

“Yang ingin saya wariskan bukan harta, Bang. Saya tidak punya harta banyak. Rumah kami sederhana. Yang ingin saya wariskan adalah cerita.”

Ia ingin ketiga putranya memahami bahwa tidak ada pekerjaan halal yang patut direndahkan dan kemiskinan bukan alasan untuk kehilangan harga diri.

“Ayahnya tidak pernah malu jadi orang miskin, tapi Ayahnya malu kalau tidak jujur. Saya mau mereka kalau nanti jadi orang, jangan pernah gengsi kerja apa pun, asal halal. Dan jangan pernah khianati titipan orang.”

Keberhasilan Bukan Sekadar Jabatan

Di tengah kesibukannya menjalankan tugas sebagai Anggota KPU Kabupaten Asahan periode 2023–2028, Pangulu masih melanjutkan pendidikan Magister Hukum di Universitas Asahan.

Perjalanan pendidikannya menjadi bukti bahwa proses belajar tidak harus berhenti ketika seseorang telah memperoleh pekerjaan atau jabatan.

Namun, ketika ditanya tentang arti keberhasilan setelah melewati perjalanan panjang tersebut, jawabannya justru tidak berpusat pada jabatan yang sekarang disandangnya.

Ia membayangkan kembali anak kecil di Sipiongot yang dahulu memikul rumput, mengenakan pakaian sederhana, dan menyimpan uang Rp500 di kantongnya.

Jika berkesempatan bertemu dengan anak itu, ia ingin memeluknya dan menyampaikan pesan agar tidak malu dengan keadaan serta tidak menyerah pada kesulitan.

“Nak, sabar ya. Jangan malu. Rumput yang kau pikul hari ini, kelak akan menjadi karpet merah untukmu. Rp500 yang kau kumpulkan hari ini, kelak akan Tuhan ganti dengan kepercayaan menjaga suara rakyat. Terus saja jujur. Terus saja bantu orang tuamu. Jangan berhenti sekolah.”

Baginya, keberhasilan bukan semata-mata menjadi anggota KPU. Keberhasilan justru terletak pada kemampuan membuat orang tua bangga, melihat istri tersenyum, dan memastikan anak-anaknya memiliki kesempatan hidup yang lebih baik.

“Keberhasilan itu ketika saya bisa pulang ke Sipiongot, saya bisa lihat orang tua saya bangga, istri saya tersenyum, anak saya tidak perlu lagi parkir kuda untuk beli buku tulis.”

Ia juga memberikan makna tersendiri terhadap kerja keras, kejujuran, dan amanah.

“Kerja keras itu bukan soal otot, tapi soal tahan malu dan tahan lapar. Kejujuran itu bukan soal tidak korupsi uang miliaran, tapi jujur menjaga Rp500 milik orang lain.”

Tentang amanah, ia kembali menggunakan pengalaman masa kecilnya sebagai perumpamaan.

“Amanah itu seperti kuda titipan orang itu. Kuda itu bukan milik kita, tapi kalau kita jaga dengan baik, pemiliknya akan percaya menitipkan kuda-kuda yang lebih besar lagi kepada kita. Dan hari ini, rakyat Asahan menitipkan demokrasi kepada saya. Itu yang harus saya jaga sampai mati.”

Dari upah Rp500 menjaga parkir kuda hingga menjadi Anggota KPU Kabupaten Asahan, perjalanan Pangulu Siregar memperlihatkan bahwa jabatan dapat berubah, tetapi prinsip hidup seharusnya tidak.

Ia pernah menjaga kuda milik orang lain agar tetap aman. Kini, ia memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar: menjaga kepercayaan rakyat dalam proses demokrasi.

Pada akhirnya, kisah ini bukan semata-mata tentang seorang anak miskin yang berhasil mencapai jabatan publik. Ini adalah kisah tentang pendidikan, ketekunan, dukungan keluarga, dan pilihan untuk tetap menjaga kejujuran ketika kepercayaan telah diberikan.

Sebab, bagi Pangulu, perjalanan dari Rp500 menuju penjaga demokrasi bukanlah alasan untuk melupakan masa lalu. Justru masa lalu itulah yang harus terus mengingatkannya tentang bagaimana sebuah amanah semestinya dijaga. (Edi Prayitno)

 

Related posts