“Pernah menjadi pekerja migran, perempuan asal keluarga petani ini membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah akhir dari sebuah cita-cita. Kini, melalui pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, ia berusaha membuka jalan bagi anak-anak yang menghadapi keadaan serupa.”
MEDIA DIALOG NEWS – Tidak semua anak dilahirkan dalam keluarga yang mampu membiayai pendidikan hingga perguruan tinggi. Bagi sebagian anak petani, buruh, dan keluarga prasejahtera, melanjutkan sekolah terkadang menjadi sebuah kemewahan. Mereka harus berhadapan dengan kenyataan bahwa kebutuhan hidup sehari-hari sering kali lebih mendesak daripada cita-cita.
Namun, keterbatasan ekonomi tidak selalu harus menjadi penentu masa depan seseorang. Setidaknya, itulah keyakinan yang diperjuangkan Heni Sri Sundani, BSEM., MM., seorang perempuan yang tumbuh dari keluarga petani dan kemudian mendedikasikan hidupnya untuk memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu.
Heni bukan sekadar berbicara tentang pentingnya pendidikan. Ia pernah berada dalam keadaan yang membuat pendidikan tinggi menjadi sebuah perjuangan. Pengalaman itulah yang kemudian membentuk pandangannya bahwa pendidikan harus dapat dijangkau oleh siapa pun, tanpa memandang latar belakang ekonomi keluarga.
“Saya percaya pendidikan adalah senjata ampuh untuk memutus mata rantai kemiskinan dan saya sudah membuktikan itu. Kini saya mendedikasikan hidup untuk memastikan lebih banyak orang mendapatkan kesempatan yang sama,” demikian keyakinan yang dituangkannya dalam profil pribadinya.
Berangkat sebagai Pekerja Migran, Pulang Membawa Pendidikan
Ada sebuah pesan yang menjadi bagian penting dari perjalanan hidup Heni: “You may leave as a migrant worker, but you must return as a graduate.”
Seseorang boleh berangkat sebagai pekerja migran, tetapi harus memiliki keberanian untuk pulang sebagai seorang sarjana. Pesan tersebut mencerminkan pandangan Heni tentang hubungan antara pekerjaan, pendidikan, dan masa depan.
Bekerja di luar negeri bagi sebagian masyarakat Indonesia merupakan pilihan ekonomi. Namun, bagi Heni, pengalaman sebagai pekerja migran juga menjadi bagian dari perjuangannya untuk memperoleh pendidikan tinggi.
Ia menempuh pendidikan Diploma di bidang E-Business dan Computer Informatics di Hong Kong pada 2006–2008. Perjalanan akademiknya berlanjut hingga meraih gelar Bachelor of Science in Entrepreneurial Management dari St. Mary’s University, Hong Kong, pada 2011. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Manajemen di Bumiputera Business School.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa bekerja dan belajar tidak harus menjadi dua pilihan yang saling meniadakan.
Bagi pekerja migran yang memiliki keinginan melanjutkan pendidikan, kisah Heni membawa pesan penting: bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.
Namun, kesempatan semacam itu tentu tidak selalu mudah diperoleh. Diperlukan akses pendidikan, dukungan, informasi, dan lingkungan yang memungkinkan seseorang untuk terus belajar. Pengalaman inilah yang kelak menjadi salah satu landasan perjuangan sosial Heni.
Ketika Keberhasilan Pribadi Tidak Lagi Cukup
Bagi sebagian orang, memperoleh gelar sarjana setelah melewati keterbatasan ekonomi mungkin sudah dianggap sebagai pencapaian besar. Namun, Heni memilih melangkah lebih jauh.
Ia menyadari bahwa masih banyak anak dari keluarga petani, pekerja migran, dan masyarakat prasejahtera yang menghadapi persoalan serupa. Mereka memiliki keinginan untuk bersekolah, tetapi tidak selalu mempunyai kesempatan untuk mewujudkannya.
Dari kesadaran tersebut, lahirlah Gerakan Anak Petani Cerdas.
Gerakan ini berangkat dari keyakinan bahwa anak-anak petani memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas.
Melalui gerakan tersebut, Heni telah membuka akses beasiswa pendidikan bagi lebih dari 6.890 anak dari keluarga petani, pekerja migran, dan masyarakat prasejahtera. Secara lebih luas, gerakannya tercatat telah mendukung lebih dari 20.000 anak dari berbagai pelosok Indonesia dalam membangun masa depan melalui pendidikan.
Angka-angka tersebut tentu memiliki makna penting. Namun, di balik setiap angka terdapat seorang anak dengan cita-cita, keluarga yang menyimpan harapan, dan kemungkinan masa depan yang dapat berubah karena hadirnya kesempatan belajar.
Pendidikan bukan sekadar persoalan memperoleh ijazah. Pendidikan juga dapat memperluas pilihan hidup seseorang.
Seorang anak petani yang memperoleh pendidikan tinggi, misalnya, dapat kembali ke desanya dengan pengetahuan tentang teknologi pertanian, kewirausahaan, pengelolaan usaha, atau berbagai keterampilan lain yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, manfaat pendidikan tidak harus berhenti pada keberhasilan individu, tetapi dapat berkembang menjadi kemajuan keluarga dan komunitasnya.
Mengajak Sarjana Pulang Kampung
Salah satu gagasan menarik yang diperkenalkan Heni adalah gerakan #SarjanaPulangKampung dan #BangunIndonesiaDariKampung. Kedua gerakan tersebut membawa pesan bahwa pembangunan Indonesia tidak semestinya hanya bertumpu pada kota-kota besar. Desa dan kampung juga membutuhkan sumber daya manusia yang berpendidikan, memiliki keterampilan, dan mampu mengembangkan potensi ekonomi masyarakat.
Selama ini, pendidikan tinggi sering dipandang sebagai jalan untuk meninggalkan kampung halaman dan mencari pekerjaan di perkotaan. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Setiap orang tentu berhak menentukan tempat bekerja dan membangun masa depannya. Namun, gagasan Heni menawarkan kemungkinan lain: bagaimana apabila sebagian sarjana justru kembali ke kampung halaman untuk mengembangkan potensi daerahnya?
Bayangkan apabila lulusan pertanian membantu petani meningkatkan produktivitas. Lulusan teknologi informasi mendampingi pelaku UMKM memasarkan produknya secara digital. Sementara lulusan pendidikan mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak di pedesaan.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa kepulangan seorang sarjana dapat menjadi awal dari perubahan sosial, sepanjang tersedia kesempatan, dukungan, dan ekosistem yang memadai. Melalui gerakan yang diinisiasinya, Heni mengajak generasi terdidik untuk melihat kampung bukan sekadar tempat asal, melainkan juga ruang untuk berkarya dan berkontribusi.
Dari Pendidikan Menuju Pemberdayaan Masyarakat
Seiring berjalannya waktu, perjuangan Heni berkembang melampaui pemberian akses pendidikan. Ia mendirikan Empowering Indonesia Foundation dan Empowering Indonesia School sebagai bagian dari upaya memperkuat pendidikan, kewirausahaan sosial, pengembangan UMKM, serta pemberdayaan perempuan, petani, dan masyarakat akar rumput. Perluasan kegiatan tersebut mencerminkan pemahaman bahwa kemiskinan merupakan persoalan yang saling berkaitan.
Pendidikan memang dapat membuka kesempatan, tetapi seseorang juga membutuhkan keterampilan, akses ekonomi, dan lingkungan yang mendukung agar pengetahuan yang diperolehnya dapat menghasilkan perubahan nyata. Karena itulah, pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya dilakukan dengan memberikan bantuan sesaat.
Masyarakat perlu memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, mengenali potensi yang dimiliki, dan membangun kemandirian secara berkelanjutan.
Dalam perjalanan profesionalnya, Heni juga terlibat sebagai mentor One-Forty Taiwan, konsultan pengembangan kewirausahaan pada Kementerian Koperasi dan UKM RI, serta mentor Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) Kemendikbudristek.
Kiprahnya turut mencakup pelatihan guru dan pengembangan kapasitas komunitas di berbagai wilayah. Seluruh kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan dan pemberdayaan ekonomi merupakan dua bidang yang dapat saling memperkuat.
Pengakuan Dunia atas Perjuangan dari Akar Rumput
Perjalanan Heni memperoleh perhatian di tingkat nasional maupun internasional. Pada 2016, namanya masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia untuk kategori Social Entrepreneur. Pengakuan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan kewirausahaan sosialnya.
Ia juga menerima berbagai penghargaan di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, antara lain Liputan 6 Awards kategori Pendidikan pada 2016, Wardah Inspiring Movement kategori Pendidikan pada 2017, serta Anugerah GATRA 2019 kategori Individu Pencetak SDM Unggul.
Pada 2021, Heni memperoleh pengakuan sebagai Ikon Prestasi Pancasila dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia.
Kiprahnya terus berlanjut. Pada 2023, ia menerima ASIA Education Award untuk kategori Outstanding Contribution in Education dan Innovation in Teaching.
Hingga 2026, profilnya mencatat lebih dari 50 penghargaan nasional dan internasional. Ia juga telah menghasilkan lebih dari 100 karya serta menjadi pembicara dalam lebih dari 500 seminar, lokakarya, dan gelar wicara di tingkat nasional maupun internasional. Namun, penghargaan hanyalah salah satu bentuk pengakuan terhadap sebuah perjalanan.
Bagi masyarakat yang memperoleh manfaat dari kegiatan pemberdayaannya, makna perjuangan Heni barangkali jauh lebih sederhana: hadirnya kesempatan yang sebelumnya sulit mereka jangkau.
Pendidikan sebagai Jalan Memutus Kemiskinan
Kisah Heni Sri Sundani menghadirkan pelajaran penting tentang pendidikan dan tanggung jawab sosial. Kemiskinan bukan sekadar persoalan kurangnya pendapatan. Kemiskinan juga dapat berkaitan dengan terbatasnya akses terhadap pendidikan, keterampilan, informasi, jaringan, dan kesempatan ekonomi.
Anak yang terpaksa meninggalkan sekolah karena keadaan ekonomi berisiko menghadapi pilihan pekerjaan yang lebih terbatas ketika dewasa. Keadaan tersebut dapat terus berulang apabila generasi berikutnya menghadapi hambatan serupa. Pendidikan merupakan salah satu jalan untuk mengurangi risiko tersebut.
Akan tetapi, pendidikan tidak boleh hanya dipahami sebagai tanggung jawab anak dan keluarganya. Pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat juga mempunyai peran dalam menciptakan kesempatan belajar yang lebih merata.
Pengalaman Heni menunjukkan bagaimana seseorang yang pernah menghadapi keterbatasan dapat mengambil peran untuk membantu orang lain memperoleh kesempatan yang lebih baik. Ia tidak hanya berusaha mengubah nasibnya sendiri, tetapi juga membangun gerakan yang memungkinkan lebih banyak orang mengembangkan potensi mereka.
Salah satu pernyataan Heni yang menggambarkan semangat tersebut adalah: “Saya memberi bukan karena saya punya banyak, tapi karena saya tahu bagaimana rasanya tidak punya apa-apa.” Kalimat sederhana itu mengandung pesan kemanusiaan yang mendalam.
Kepedulian sosial tidak selalu lahir dari kelimpahan materi. Terkadang, kepedulian justru tumbuh dari pengalaman menghadapi kesulitan dan memahami bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan.
Mengubah Nasib, Membuka Kesempatan bagi Sesama
Perjalanan Heni Sri Sundani dari keluarga petani, menjadi pekerja migran, menempuh pendidikan tinggi, hingga membangun gerakan pemberdayaan masyarakat memperlihatkan bahwa keberhasilan pribadi dapat menjadi titik awal dari tanggung jawab sosial yang lebih luas. Kisahnya sekaligus mengajak kita untuk mempertanyakan kembali makna keberhasilan.
Apakah seseorang dianggap berhasil hanya ketika memperoleh pendidikan tinggi, pekerjaan yang baik, penghasilan besar, atau penghargaan internasional? Ataukah keberhasilan juga dapat diukur dari seberapa jauh pengetahuan, pengalaman, dan kesempatan yang dimilikinya mampu memberikan manfaat bagi kehidupan orang lain? Tentu tidak semua orang harus mendirikan yayasan atau membangun gerakan sosial untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Seorang guru yang tekun mendidik muridnya, pengusaha yang memberikan kesempatan kerja secara adil, sarjana yang mengembangkan potensi kampung halamannya, atau pekerja migran yang membantu pendidikan keluarganya juga dapat menjadi bagian dari perubahan. Setiap orang memiliki ruang pengabdiannya masing-masing.
Dari perjalanan Heni, kita belajar bahwa pendidikan dapat mengubah kehidupan seseorang. Namun, ketika orang yang memperoleh pendidikan bersedia berbagi pengetahuan dan membuka kesempatan bagi sesamanya, manfaat pendidikan dapat menjangkau jauh lebih banyak kehidupan.
Sebab, keberhasilan yang paling bermakna bukan hanya ketika seseorang berhasil keluar dari kemiskinan, tetapi juga ketika ia mampu membuka jalan agar orang lain memiliki kesempatan untuk keluar dari keadaan yang sama. (Edi Prayitno)
Catatan editorial: Artikel ini disusun berdasarkan CV Heni Sri Sundani 2026 yang diberikan. Angka penerima manfaat, riwayat pendidikan, jabatan, dan penghargaan bersumber dari dokumen tersebut. Untuk publikasi liputan jurnalistik lanjutannya, kisah pribadi dan dampak program akan ditulis dan diterbitkan berdasarkan wawancara langsung dengan Heni serta penerima manfaat gerakannya.
Redaksi mencantumkan Nomor WA untuk kontak lebih lanjut kepada Yayasan, Barangkali ada pembaca mediadialognews.com dan dialogberita.com yang terketuk pintu hatinya ikut memberikan bantuan. Segala sesuatunya wajib ditanyakan langsung kepada Kontak Person di Empowering Indonesia Foundation Nomor : 62 858-8000-8825. Terima kasih.












