MEDIA DIALOG NEWS, Kisaran – Seorang jurnalis investigatif sekaligus aktivis sosial, Edi Prayitno, tengah mempersiapkan penerbitan buku terbarunya berjudul Menyigi Zaman. Buku ini lahir dari perjalanan panjangnya sebagai penulis, pemerhati tata kelola publik, dan warga yang resah melihat paradoks kehidupan modern: di satu sisi teknologi menawarkan kemudahan, namun di sisi lain krisis kepekaan sosial semakin nyata.
Dalam pengantar penulis, Edi menegaskan bahwa menulis bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan nurani untuk merekam denyut zaman. Ia menyoroti fenomena yang sering luput dari perhatian, mulai dari menipisnya air tanah, turunnya kualitas layanan kesehatan, pejabat yang kehilangan integritas, hingga anak muda yang terjebak dalam “neraka digital”. Baginya, kritik bukanlah ancaman, melainkan cermin yang harus dihadirkan demi menjaga marwah publik.
Isi dan Struktur Buku
Buku Menyigi Zaman dibagi ke dalam empat bagian besar:
- Teknologi & Lingkungan
- Jurnalistik & Media
- Hukum & Politik
- Kekuasaan & Sosial
Setiap artikel di dalamnya merupakan potongan mozaik yang bila dirangkai memberi gambaran utuh tentang wajah zaman. Dari isu lokal seperti air tanah di Asahan hingga persoalan global seperti kebebasan pers dan dampak digitalisasi, Edi mengajak pembaca untuk melihat keterkaitan antar isu dan menemukan benang merah berupa integritas serta keberanian moral.
Komitmen Jurnalisme Investigatif
Melalui PT. Dialog Online News serta platform mediadialognews.com dan dialogberita.com, Edi menegaskan bahwa penerbitan buku ini bukan sekadar menambah deretan karya, melainkan bagian dari ideologi yang jelas: melakukan perubahan melalui jurnalisme investigatif. Buku ini diharapkan menjadi ruang refleksi, percikan diskusi, sekaligus dorongan untuk bertindak.
“Menyigi zaman berarti berani menelisik sisi gelap sekaligus merawat harapan. Karena setiap zaman layak disigi, agar kita tidak kehilangan arah di tengah riuhnya perubahan,” tulis Edi dalam pengantarnya.
Buku Menyigi Zaman dijadwalkan terbit dalam waktu dekat dan akan menjadi salah satu karya reflektif yang menggabungkan data, analisis, dan suara hati. Edi berharap karya ini dapat menjadi bahan renungan bagi masyarakat, sekaligus memperkuat ruang diskusi publik tentang hukum, teknologi, media, dan kehidupan sosial. (Redaksi)

