MEDIA DIALOG NEWS, Jakarta – Kementerian Kesehatan menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penanggulangan Dengue secara hybrid di Ruang Leimena, Jakarta, Selasa (9/6). Forum ini membahas operasionalisasi Rencana Aksi Nasional (RAN) Dengue 2026–2029 sebagai strategi menuju target zero death akibat dengue pada 2030.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan, Indonesia masih menghadapi beban besar dalam pengendalian dengue. Data menunjukkan Indonesia menempati peringkat kedua dunia setelah Brasil, dengan kontribusi 17,2 persen terhadap total kematian dengue global. Pada 2024 tercatat lebih dari 257 ribu kasus, sementara hingga 2026 sudah ada 39.672 kasus dengan 105 kematian.
RAN Dengue 2026–2029 disusun dengan empat pilar utama: penguatan deteksi dini melalui Rapid Diagnostic Test (RDT) di puskesmas, standarisasi tata laksana kasus di rumah sakit daerah, inovasi pencegahan lewat teknologi Wolbachia dan vaksinasi dengue, serta integrasi surveilans melalui platform Satu Sehat yang menghubungkan data Kemenkes dan BPJS Kesehatan.
Dukungan lintas sektor juga ditegaskan oleh Kementerian Dalam Negeri. Direktur SUPD III Ditjen Bina Pembangunan Daerah, Fauzan Hasan, menyampaikan komitmen Kemendagri mendorong pemerintah daerah menjadikan pengendalian dengue sebagai prioritas dalam RKPD dan APBD 2026–2029. “Keberhasilan pengendalian dengue membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pusat, daerah, fasilitas kesehatan, hingga masyarakat,” ujarnya.
FGD menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis, antara lain percepatan vaksinasi dengue bagi anak usia sekolah sesuai rekomendasi ITAGI, perluasan program Wolbachia berbasis bukti, serta penguatan skrining dan deteksi dini di layanan primer. Pemerintah berharap langkah ini dapat menekan angka kasus sekaligus memastikan target eliminasi kematian akibat dengue tercapai pada 2030. (Nanang)













