Anak Desa yang Tumbuh dengan Nilai
Di Desa Sepaham, Kecamatan Sei Kepayang, lahirlah Darwis Sianipar pada 3 Januari 1973. Putra Alm. Maksum Sianipar dan Sopiah ini tumbuh dalam keluarga besar dengan enam saudara kandung. Kehidupan sederhana di kampung membentuk karakter keras kepala sekaligus penuh empati—modal penting yang kelak menuntunnya menjadi aktivis reformasi.

Sejak SD hingga SMA, Darwis menempuh pendidikan di sekolah-sekolah lokal sebelum melanjutkan ke Al Fallah Tanjung Balai dan Daar Ulllum. Di kampus, ia aktif di HMI, organisasi mahasiswa yang menjadi kawah candradimuka bagi banyak tokoh reformasi. Dari ruang diskusi mahasiswa, ia belajar bahwa keberanian bukan sekadar berteriak di jalanan, melainkan juga kemampuan merumuskan gagasan dan memperjuangkannya dengan konsistensi.
Lingkungan desa yang penuh solidaritas membuat Darwis terbiasa melihat bagaimana masyarakat saling menopang. Nilai kebersamaan itu kelak menjadi fondasi ketika ia harus memimpin ribuan massa dalam aksi reformasi.
Reformasi 1997–1998: Menolak Kompromi
Ketika angin perubahan berhembus kencang, Darwis dipercaya sebagai Ketua Reformasi Kabupaten Asahan. Ia berada di garis depan, menggerakkan mahasiswa dan masyarakat menuntut lengsernya Soeharto.
Awal 1998, Darwis dipanggil diam-diam oleh pejabat lokal. Ia dituduh berpotensi membuat kegaduhan, bahkan ditawari uang dan lahan sawit agar menghentikan aksi. Namun, Darwis menolak. Baginya, idealisme tidak bisa ditukar dengan materi.

Keberaniannya membuatnya ditangkap aparat TNI dan Polri, sempat ditahan di Polres dan Kodim. Meski begitu, semangatnya tak surut. Ia mengatur strategi agar aksi di Asahan tidak berujung anarkis, dengan konvoi massa memutar menghindari pusat kota Kisaran.
Puncaknya, ribuan massa mengepung Gedung DPRD Asahan. Namun ketika Soeharto lengser pada 20 Mei 1998, Darwis dan kawan-kawan menghentikan aksi. “Kalau rusuh di Asahan, yang pertama ditangkap pasti aku,” kenangnya suatu kali.
Keputusan Darwis untuk menjaga aksi tetap damai menunjukkan kedewasaan politik yang jarang dimiliki aktivis muda. Ia sadar, reformasi bukan sekadar menggulingkan kekuasaan, tetapi juga menjaga agar masyarakat tidak menjadi korban kekacauan.
Dari Aktivis ke Pengabdi Masyarakat
Selepas reformasi, Darwis tidak berhenti berjuang. Ia memilih jalur pendidikan dan sosial:
- Guru di Madrasah Tsanawiyah Tanpis dan Aliyah Al Wasliyah Sei Kepayang
- Litbang di Daar Ulllum (2001–2003), mengelola laboratorium komputer dan bahasa
- Dosen di UMSU (2000–2001), Fakultas Hukum
- Anggota KPU Asahan (2003–2008), lalu Ketua KPU Asahan (2013–2018)
- Pendamping masyarakat nelayan dan petani (2008–2012) di Sei Kepayang, Padang Mahondang, dan Pulo Raja
- Ketua KPU Asahan (2013-2018)
- Ketua MD KAHMI Asahan (2021 s/d Sekarang)
Darwis juga dikenal kritis terhadap kebijakan daerah. Pada 6 Juni 2001, ia menyoroti proyek infrastruktur tanpa tender yang merugikan masyarakat Asahan. Dalam sebuah aksi, ia sempat ditangkap polisi setelah melakukan demonstrasi terhadap Gubernur Sumatera Utara yang saat itu membuka Pameran Pembangunan di Lapangan Hokky, Jalan Akasia Kisaran. Kejadian tersebut menggegerkan Asahan, karena Darwis yang bertubuh kurus ditendang dan dipijak-pijak, dianggap telah membuat malu Kabupaten Asahan di hadapan Gubernur dan tamu-tamu provinsi lainnya.
Peristiwa itu menjadi catatan penting dalam perjalanan aktivismenya. Penulis, yang ketika itu bekerja sebagai wartawan Sumut Pos (JPNN Grup), turut meliput dan memberitakan langsung kejadian yang menimpa Darwis Sianipar.
Perjalanan ini menunjukkan bahwa Darwis tidak pernah berhenti belajar. Dari ruang kelas hingga ruang demokrasi, ia menyalurkan energi reformasi ke dalam kerja nyata. Baginya, pengabdian bukan hanya turun ke jalan, tetapi juga memastikan masyarakat kecil mendapat ruang dalam kebijakan.
Keluarga: Sandaran dan Motivasi
Tahun 2008, Darwis menikah dengan Syahera Dewi. Dari pernikahan ini lahir tiga anak: Syafa (2009), Muhammad Akbar (2011), dan Adepa (kelas 5 SD). Keluarga menjadi sandaran sekaligus motivasi Darwis untuk terus berkiprah.

Bagi Darwis, keluarga bukan sekadar tempat pulang, melainkan sumber energi untuk melanjutkan perjuangan. Ia sering menekankan bahwa keberanian di ruang publik harus diimbangi dengan kelembutan di rumah. Anak-anaknya tumbuh dengan cerita reformasi yang pernah ia jalani, menjadi saksi bahwa idealisme bisa diwariskan lewat teladan.
Politik dan Masa Depan
Darwis mengundurkan diri dari KPU Asahan pada 2018. Setahun kemudian, ia maju sebagai caleg Golkar di Dapil 3 Sei Kepayang Induk, Timur, Barat, dan Simpang 4 Teluk Dalam. Meski belum berhasil duduk di kursi legislatif, ia memperoleh suara signifikan, berada di urutan kedua setelah peraih kursi di dapil yang sama.
Kini, Darwis masih menyimpan rencana untuk kembali mencalonkan diri. Baginya, politik bukan sekadar ambisi, melainkan sarana memperjuangkan masyarakat yang pernah ia dampingi sejak masa reformasi.
Langkah politiknya mencerminkan konsistensi: dari jalanan reformasi ke ruang demokrasi, ia tetap membawa semangat yang sama—membela masyarakat kecil. Meski gagal pada percobaan pertama, ia tidak melihatnya sebagai kekalahan, melainkan sebagai proses panjang menuju perubahan.
Refleksi: Konsistensi Seorang Aktivis
Darwis Sianipar adalah potret aktivis yang konsisten menjaga idealisme. Dari jalanan reformasi hingga ruang kelas, dari kantor KPU hingga desa nelayan, ia menapaki perjalanan panjang penuh risiko dan pengabdian. Dan kini dia terus mengabdi di luar sistem sebagai Ketua Alumni HMI di Kabupaten Asahan.
Ia adalah saksi sekaligus pelaku sejarah lokal yang membuktikan bahwa perubahan besar lahir dari keberanian menolak kompromi, meski harus berhadapan dengan intimidasi dan godaan kekuasaan.
Lebih dari itu, kisah Darwis adalah pengingat bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh tokoh nasional, tetapi juga oleh figur lokal yang berani berdiri tegak. Ia membuktikan bahwa suara dari kampung bisa mengguncang pusat kekuasaan, dan bahwa idealisme yang dijaga dengan konsistensi akan selalu relevan, bahkan puluhan tahun setelah reformasi. (Edi Prayitno)
Pengumuman
Dialog Berita bersama Media Dialog News saat ini tengah melakukan pencarian 100 figur tokoh Kabupaten Asahan untuk ditulis riwayat hidup singkat serta perannya di berbagai bidang.
Tokoh-tokoh tersebut akan dipilih berdasarkan kiprah, kontribusi, dan keteladanan yang layak dijadikan panutan bagi masyarakat. Bidang yang dimaksud mencakup pemerintahan, pendidikan, kesehatan, hukum, politik, budaya, ekonomi, sosial, hingga gerakan masyarakat sipil.
Kami mengundang partisipasi pembaca untuk mengusulkan nama tokoh yang dianggap layak masuk dalam daftar ini. Usulan dapat dikirimkan ke redaksi dengan format:
- Nama Tokoh : ——————————
- Nomor Ponsel Tokoh : ——————
- Bidang Kiprah : —————————
- Alasan singkat mengapa tokoh tersebut layak dijadikan panutan : ——————
Kirimkan usulan melalui email: edi_batakpos@yahoo.com atau WhatsApp: 0889-9737-2905
Hasil pencarian ini akan dipublikasikan secara bertahap dalam bentuk tulisan feature, sehingga masyarakat dapat mengenal lebih dekat figur-figur inspiratif dari Asahan. Pada akhirnya, 25 tokoh terpilih akan diseleksi kembali untuk diterbitkan menjadi sebuah buku.
(Redaksi Dialog Berita & Media Dialog News)

