MEDIA DIALOG NEWS, Jakarta – Di tengah perlombaan global membangun kendaraan listrik, turbin angin, satelit, radar, hingga sistem persenjataan modern, dunia berebut 17 unsur kimia yang dikenal sebagai Logam Tanah Jarang (LTJ). Unsur ini bukan sekadar bahan tambang, melainkan fondasi teknologi abad ke-21.
Indonesia baru-baru ini mengidentifikasi delapan blok strategis LTJ di Kalimantan, Sulawesi, dan Bangka Belitung. Momentum ini menandai langkah menuju kedaulatan teknologi, bukan sekadar pemasok bahan mentah. LTJ terdiri atas 15 unsur lantanida ditambah Skandium dan Itrium, dengan keistimewaan sifat magnetik, optik, dan katalitik. Neodimium dan Praseodimium menjadi inti magnet permanen NdFeB yang digunakan pada motor listrik, turbin angin, radar, hingga satelit. Sementara Dysprosium dan Terbium penting bagi teknologi militer karena tahan suhu tinggi.
Presiden Haidar Alwi Care, Ir. R. Haidar Alwi, menegaskan LTJ adalah simpul antara ilmu pengetahuan, konstitusi, industri, dan pertahanan. “Kekayaan alam hanya menyediakan bahan baku, tetapi ilmu pengetahuan, hukum, dan visi kebangsaanlah yang mengubahnya menjadi Magnetosfer Kemakmuran Nasional,” ujarnya.
Fondasi Teknologi, Hilirisassi dan Konstitusi
Sejak penemuan mineral di Ytterby, Swedia, akhir abad ke-18, LTJ menjadi jantung teknologi modern. Indonesia memiliki cadangan monasit dan xenotim yang kaya unsur LREE dan HREE. Namun nilai tertinggi bukan pada pasir mentah, melainkan pada magnet permanen dan produk teknologi yang lahir darinya. “Bangsa yang menguasai magnet permanen akan ikut menentukan arah industri dunia,” kata Haidar.
Pasal 33 UUD 1945 menegaskan kekayaan alam harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Amanat ini diperkuat UU Minerba 2025 dan Permen ESDM 2025 yang mengutamakan LTJ untuk industri dalam negeri. Pemerintah telah menyiapkan riset pengolahan di Mamuju serta pilot plant pemurnian oleh BRIN dan PT Timah Tbk.
Strategi Menuju Kedaulatan Teknologi
Menurut Haidar, Indonesia harus fokus pada Neodimium dan Praseodimium sebagai inti magnet permanen, serta menjadikan Dysprosium dan Terbium sebagai cadangan strategis. Serium dan Lantanum dapat dimanfaatkan sebagai produk sampingan. Tangga nilai tambah LTJ dimulai dari bijih hingga produk akhir seperti motor listrik dan sistem pertahanan.
“Ketika Indonesia menguasai seluruh tahapan dari tambang hingga industri, LTJ bukan lagi sekadar catatan geologi, melainkan fondasi Technology Sovereignty dan Dividen Kemerdekaan bagi rakyat,” pungkas Haidar Alwi. ( Nanang Jkt)












