Media Dialog News

Yulita Sari Nasution: Perempuan yang Menemukan Jati Diri di Jalan Kemanusiaan

MEDIA DIALOG NEWS“Saya lahir di awal tahun baru, dan sejak itu saya percaya hidup saya harus membawa harapan bagi orang lain,” ujar Yuli, begitu ia akrab disapa.

Ia lahir pada 1 Januari 1975 tepat saat lonceng gereja berdentang menyambut tahun baru. Anak kelima dari tujuh bersaudara ini tumbuh di Kisaran, dari pasangan Syamsuddin Thaib Nasution—seorang pebisnis getah—dan Hasrah Datin, perempuan Melayu Asli Asahan. Sejak kecil, ia sudah terbiasa hidup dalam keluarga besar yang penuh nilai kebersamaan.

Masa sekolahnya dimulai di SD Muhammadiyah Kisaran, lalu SMP UNA Kisaran, SMA Negeri 1 Kisaran, hingga kuliah di Swadaya – Medan Program Studi Bahasa Jepang. Dunia pendidikan membentuknya menjadi sosok yang terbuka pada budaya lain. Tamat kuliah Ia pun mengajar less bahasa Jepang di Kisaran, berbagi ilmu kepada generasi muda.

Tahun 1992, Yuli pertama kali mengenal arung jeram di Sungai Asahan. Ia bergabung dengan FAJI sebagai panitia relawan (volunteer), mendampingi tamu dari luar negeri. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa kepedulian bisa melintasi batas bahasa dan budaya. Pengalaman ini juga menumbuhkan rasa percaya diri: bahwa seorang perempuan dari Kisaran bisa berperan dalam kegiatan internasional, menjadi jembatan antara masyarakat lokal dan tamu asing. Sejak saat itu, Yuli mulai melihat dirinya bukan hanya sebagai bagian dari keluarga atau komunitas kecil, tetapi sebagai bagian dari masyarakat dunia yang saling membutuhkan.

Lebih jauh, kegiatan arung jeram membuatnya terbiasa menghadapi tantangan alam. Sungai yang deras dan penuh risiko mengajarkan arti keberanian, kerja sama, dan ketekunan. Nilai-nilai itu kelak menjadi bekal penting ketika ia terjun ke dunia kemanusiaan yang jauh lebih kompleks.

Tsunami Aceh: Titik Balik Hidup

Tahun 2003, Yuli sempat berlibur ke Banda Aceh bersama peserta arung jeram dari Unsyiah dan luar negeri. Mereka menginap di Lamtemen, ia merasakan ikatan batin dengan pemilik asrama. Setahun kemudian, bencana tsunami melanda. Mereka turun lagi ke Banda Aceh, untuk mencari informasi tentang ibu dan keluarga yang ada di penginapan dulu, karena ikatan batin yang sudah terlanjur kuat seperti keluarga kepada mereka. Kemudian 10 hari setelah tsunami, Yuli ditawari menjadi koordinator kemanusiaan si Aceh.

Yuli bergabung dengan NGO PCI (Project Concern International) dan FASE Foundation, menjadi koordinator program pemulihan pasca bencana. Hanya sepuluh hari setelah tsunami, ia sudah berada di lapangan. Selama dua tahun, ia menyaksikan penderitaan, kehilangan, sekaligus kekuatan manusia untuk bertahan. Dari pengalaman itu, ia menemukan jati dirinya sebagai perempuan yang peduli pada kemanusiaan. “Saya tidak datang ke Aceh untuk mencari pekerjaan. Saya datang karena hati saya terpanggil. Melihat penderitaan orang lain, saya merasa harus ikut berbuat sesuatu,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Di Aceh, Yuli bukan hanya bekerja sebagai relawan. Ia hidup bersama para korban, mendengar cerita mereka, merasakan kesedihan yang mendalam, sekaligus menyaksikan bagaimana harapan bisa tumbuh dari puing-puing kehancuran. Ia terlibat dalam program livelihood—pengembangan ekonomi kelompok—yang membantu masyarakat bangkit kembali sesuai minat dan kemampuan masing-masing. Baginya, pemulihan bukan sekadar membangun rumah atau menyalurkan bantuan, tetapi membangkitkan kembali semangat hidup. “Pemulihan itu bukan hanya soal bangunan fisik. Yang lebih penting adalah membangkitkan semangat hidup mereka,” tegasnya.

Pengalaman itu membuat Yuli memahami bahwa kemanusiaan adalah panggilan jiwa. Ia tidak pernah melihat pekerjaannya sebagai karier, melainkan sebagai amanah. “Di Aceh saya belajar, kepedulian bisa mengubah rasa putus asa menjadi kekuatan baru. Itu yang membuat saya yakin, jalan hidup saya memang di kemanusiaan,” urainya penuh keyakinan.

KIPAS: Suara Perempuan Asahan

Usai menyelesaikan tugasnya sebagai koordinator, Yuli sempat ingin menetap di sebuah desa dekat Aceh Besar. Namun, karena ibunya sakit, ia kembali ke Kisaran dan tidak kembali lagi ke Aceh. Pada tahun 2007, ia bersama sejumlah rekannya mendirikan KIPAS (Kajian Informasi Perempuan Asahan). Hingga kini, organisasi ini tetap aktif mendampingi korban pelecehan, terutama anak-anak, dengan semangat konsisten meski berjalan tanpa dukungan finansial memadai dari pemerintah daerah.

Bagi Yuli, pendampingan terhadap kasus-kasus pelecehan terhadap anak tidak perlu diekspos di media massa. “Kalau pendampingan diekspos, korban bisa merasa dikasihani. Aibnya terpublikasikan. Hari ini mereka dianggap lemah, besok bisa kembali menjadi korban. Itu tidak adil bagi mereka,” ujarnya tegas.

Ia juga menambahkan, “Di Asahan belum ada rumah aman. Anak-anak korban pelecehan sering hanya diselesaikan lewat jalur hukum, lalu ditinggalkan begitu saja. Padahal mereka butuh kepedulian, bukan sekadar proses hukum.”

Yuli menekankan pentingnya konsep daerah ramah anak, yang harus diwujudkan dengan anggaran khusus, ruang bermain, serta pendamping yang benar-benar peduli. KIPAS sendiri telah menangani lebih dari seratus kasus anak korban pelecehan, meski tanpa dukungan finansial yang memadai dari Pemkab Asahan.

“Sebagian kasus memang selesai lewat jalur hukum, tapi banyak juga yang akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan. Ironisnya, proses itu sering berjalan tanpa melibatkan KIPAS, padahal kami yang mendampingi anak-anak sejak awal,” ujar Yuli dengan nada prihatin.

Namun perjuangan itu tidak selalu mudah. KIPAS sering berjalan dengan dana terbatas, membuat Yuli harus merogoh kantong pribadi atau mengandalkan solidaritas teman-teman. Ada kalanya ia merasa perjuangannya berjalan sendirian, tanpa dukungan nyata dari pemerintah.

Selain di KIPAS, Yuli aktif di FAJI selama 10 tahun sebelum ke Aceh. Ia juga mengelola proyek PNPM berupa pelatihan pupuk organik di Kisaran Barat. Tahun 2010–2020, ia menjadi Sekretaris Yayasan Kanker Indonesia di Asahan mendampingi Isteri Bupati yang menjadi Ketuanya, menangani pelatihan kesehatan tentang kanker serviks bagi perempuan.

Persahabatan dan Politik

Yuli dekat dengan Winda Fitrika, isteri Bupati Asahan, kedekatan itu dibangun sejak ia terlibat dalam Tim Sukses Taufan Gama Simatupang (Suaminya Winda, red) pada tahun 2009. Ia menilai Winda memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Selama sepuluh tahun, persahabatan mereka terjalin erat. “Kami berpisah karena aku tidak setuju dia menjadi wakil bupati, setelah suaminya tiada,” ujarnya mengenang masa itu.

Meski sempat berbeda pendapat saat Pilkada 2020, Yuli tidak pernah menganggap hal itu sebagai akhir dari hubungan mereka. Kedekatannya dengan tokoh politik juga sempat menimbulkan komentar miring. Ada yang menilai Yuli terlalu dekat dengan kekuasaan, meski ia menegaskan bahwa persahabatan tidak boleh dikorbankan oleh kepentingan politik.

Ia hanya menyayangkan bahwa saran dan prediksi dirinya tentang keterpilihan sahabatnya di Pilkada Asahan tidak didengarkan. Namun, setelah pesta Pilkada Asahan usai, persahabatan kembali terjalin dengan hangat. “Bagi saya, persahabatan lebih tinggi nilainya daripada kepentingan politik. Politik bisa berubah, tapi sahabat tetap sahabat,” tegas Yuli.

Baginya, perbedaan pandangan tidak seharusnya memutuskan hubungan baik. Justru dari perbedaan itu, ia belajar tentang kedewasaan, tentang bagaimana menjaga hati tetap bersih meski berada di tengah hiruk-pikuk politik.

Kedekatannya dengan Winda juga menunjukkan sisi lain Yuli: ia bukan hanya aktivis sosial, tetapi juga perempuan yang mampu menjalin hubungan lintas bidang. Diskusi-diskusi mereka, baik tentang pembangunan masyarakat, perlindungan anak, kesehatan perempuan, maupun tentang politik, memperkaya pandangan Yuli tentang arti kepemimpinan dan tanggung jawab sosial.

“Kami sering berdiskusi panjang. Dari Winda saya belajar, tentang bagaimana menjadi mendengar yang baik bagi sahabat,” imbuhnya.

Pendamping PKH

Tahun 2013, Yuli menjadi pendamping PKH di Sei Kepayang Timur. Ia merasakan langsung sulitnya akses jalan rusak di Sei Sembilang, meski daerah itu potensial dengan kebun sawit, hasil laut, dan UMKM.

Pengalaman berkesan terjadi saat sosialisasi PKH, ketika ia harus berjuang sendirian melewati jalan rusak parah. Motor yang dikendarainya sempat patah kunci, namun ia tetap melanjutkan perjalanan dengan penuh keikhlasan. Dalam perjalanan menuju perkampungan, Yuli melewati jalan pintas yang oleh masyarakat setempat dianggap angker.

“Tiba-tiba saja, saat aku terjatuh dari motor dan kunci patah, muncul seorang anak berpakaian pramuka. Aku minta bantuannya, dan dengan mudah ia melepaskan patahan kunci dari lubangnya,” urai Yuli. Untuk menghidupkan motor, anak itu menyerahkan puluhan kunci berwarna emas. “Aku coba satu, dan motorku langsung hidup. Ia lalu mengawaliku sampai persimpangan. Tapi ketika aku menoleh, anak itu sudah menghilang entah ke mana,” kenangnya.

Peristiwa mistis itu menjadi simbol keteguhan hatinya: bahwa kerja sosial bukan sekadar tugas, melainkan panggilan yang harus dijalani dengan sabar dan ikhlas. “Saya percaya, itu adalah pertolongan tak terlihat. Seolah Tuhan mengirimkan seseorang untuk menguatkan langkah saya. Sejak saat itu, saya tidak pernah ragu lagi bahwa setiap perjuangan pasti ada jalan,” ucapnya dengan penuh keyakinan.

Selama 13 tahun, ia menjadi koordinator kecamatan PKH di desa Sei Pasir dan Sei Tempurung. Pada tahun 2025, ia diangkat sebagai P3K pendamping Kementerian Sosial. Baginya, pengangkatan itu bukan sekadar status, melainkan pengakuan atas dedikasi panjang yang ia berikan untuk masyarakat kecil di pelosok.

Moto dan Kehidupan Pribadinya

Pesan ayahnya selalu ia genggam: “Jika orang mempercayakan kepadamu amanah, selesaikanlah secara tuntas sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada Tuhan dan orang yang memberi kepercayaan.”

Moto ini menjadi kompas hidup Yuli, menuntunnya dalam setiap langkah. Ia percaya bahwa amanah adalah sesuatu yang sakral, tidak bisa ditawar atau ditinggalkan. Prinsip itu membuatnya konsisten dalam setiap peran, baik sebagai relawan, pendamping, maupun aktivis.

Tahun 2021, Saat pandemi covid, dia menemukan jodohnya. Yuli menikah dengan M. Yusuf Waruwu, seorang pengusaha dan pekebun sawit asal Nias. Ia tinggal bersama suami di Perumahan Griya Kisaran Asri. Yusuf memiliki anak dari pernikahan sebelumnya yang kini dianggap Yuli sebagai anaknya sendiri.

Pernikahan Yuli membawa perubahan besar dalam hidupnya. Suaminya, yang selama 26 tahun tidak pernah pulang kampung, akhirnya kembali ke tanah kelahiran. Mereka berbulan madu di Nias, berkenalan dengan keluarga besar sang suami, sekaligus bertemu dengan mertua dan kerabat yang selama ini hanya ia dengar lewat cerita.

Bagi Yuli, pengalaman itu menjadi kenangan manis yang tak terlupakan. Ia sangat menikmati budaya khas Nias, alamnya yang indah, serta hangatnya sambutan keluarga. Ia bersyukur memiliki suami yang mampu menjadi penyeimbang dalam keluarga besar, memperantarai dirinya yang semula asing dengan adat dan budaya Nias hingga perlahan menjadi paham.

Kehidupan pribadinya pun menjadi ruang tenang, tempat ia menemukan keseimbangan setelah bertahun-tahun bergelut dengan dunia sosial yang penuh tantangan. “Keluarga bagi saya adalah tempat pulang, tempat saya belajar kembali arti ketulusan. Setelah bertahun-tahun berjuang di jalan kemanusiaan, di rumah saya menemukan kekuatan baru untuk terus melangkah,” imbuhnya dengan penuh rasa syukur.

Harapan ke Depan

Meski sudah bertahun-tahun menyuarakan pentingnya rumah aman, hingga kini cita-cita itu belum terwujud. Yuli sadar, tanpa dukungan anggaran pemerintah, mimpi itu hanya akan menjadi wacana. Keterbatasan ini sering membuatnya merasa perjuangan berjalan di tempat, namun ia tetap percaya bahwa suatu hari akan ada terobosan.

Sebagai aktivis yang pernah menangani kasus anak, Yuli bercita-cita mendirikan rumah aman bagi anak-anak korban pelecehan. Baginya, rumah aman adalah tempat ternyaman, dilindungi oleh pengayom, dan dijamin oleh negara. “Saya ingin setiap anak yang pernah terluka bisa merasakan kembali arti perlindungan dan kasih sayang,” katanya penuh harap.

Harapan itu bukan sekadar mimpi, melainkan visi yang lahir dari pengalaman panjangnya mendampingi korban. Yuli ingin memastikan bahwa setiap anak yang pernah terluka bisa merasakan kembali arti perlindungan, kasih sayang, dan kesempatan untuk tumbuh tanpa rasa takut.

Lebih jauh, Yuli berharap Pemerintah Kabupaten Asahan tidak menutup mata terhadap mimpi ini. “Saya ingin Pemkab Asahan berani memasukkan program ramah anak ke dalam APBD. Jangan hanya slogan, tapi benar-benar diwujudkan dengan membangun RUMAH AMAN bagi anak,” tegasnya.

Bagi Yuli, dukungan Pemkab Asahan akan menjadi tonggak penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan sehat bagi anak-anak. Ia percaya, dengan adanya anggaran khusus untuk program ramah anak, Asahan bisa menjadi contoh daerah yang peduli pada masa depan generasi muda.

Dan di situlah letak kunci dari seluruh perjalanan hidupnya: menjadikan kepedulian yang ia jalani selama puluhan tahun sebagai warisan nyata bagi masyarakat, terutama anak-anak yang membutuhkan perlindungan. “Kalau anak-anak kita aman, maka masa depan Asahan juga akan aman. Itulah mimpi terbesar saya,” tutup Yuli dengan penuh keyakinan. (Edi Prayitno)

Pengumuman

Dialog Berita bersama Media Dialog News saat ini tengah melakukan pencarian 100 figur tokoh Kabupaten Asahan untuk ditulis riwayat hidup singkat serta perannya di berbagai bidang.

Tokoh-tokoh tersebut akan dipilih berdasarkan kiprah, kontribusi, dan keteladanan yang layak dijadikan panutan bagi masyarakat. Bidang yang dimaksud mencakup pemerintahan, pendidikan, kesehatan, jurnalistik, olahraga, agama, hukum, politik, budaya, ekonomi, sosial, hingga gerakan masyarakat sipil.

Kami mengundang partisipasi pembaca untuk mengusulkan nama tokoh yang dianggap layak masuk dalam daftar ini. Usulan dapat dikirimkan ke redaksi dengan format:

  • Nama Tokoh : ——————————
  • Nomor Ponsel Tokoh : ——————
  • Bidang Kiprah : —————————
  • Alasan singkat mengapa tokoh tersebut layak dijadikan panutan : ————

Kirimkan usulan melalui email: edi_batakpos@yahoo.com atau WhatsApp: 0889-9737-2905

Hasil pencarian ini akan dipublikasikan secara bertahap dalam bentuk tulisan feature, sehingga masyarakat dapat mengenal lebih dekat figur-figur inspiratif dari Asahan. Pada akhirnya, 25 tokoh terpilih akan diseleksi kembali untuk diterbitkan menjadi sebuah buku.

(Redaksi Dialog Berita & Media Dialog News)

Berita Terbaru

Video Terbaru

Placement tidak ditentukan.

Berita Lainnya

Anggaran Rp.2 Miliar, Paket e-Purchasing Paving Block Dinkes Asahan Diduga Langgar SNI dan Perpres 16/2018

Anggaran Rp.2 Miliar, Paket e-Purchasing Paving Block Dinkes Asahan Diduga Langgar SNI dan Perpres 16/2018

MEDIA DIALOG NEWS, Asahan – Data Rencana Umum Pengadaan (RUP) LKPP dan AMEL LPSE Kabupaten Asahan memuat 22 paket pekerjaan

Penghentian Penyelidikan Kasus Dugaan Penimbunan BBM Bersubsidi di Luwu Dinilai Kontroversial

Penghentian Penyelidikan Kasus Dugaan Penimbunan BBM Bersubsidi di Luwu Dinilai Kontroversial

MEDIA DIALOG NEWS, Luwu – Penghentian proses penyelidikan atas laporan dugaan penyalahgunaan dan penimbunan BBM bersubsidi jenis solar yang dilaporkan

Hubungkan Jambi-Lampung, SIG Pasok Beton untuk Tol Pertama di Jambi

Hubungkan Jambi-Lampung, SIG Pasok Beton untuk Tol Pertama di Jambi

MEDIA DIALOG NEWS, Jambi - PT Semen Indonesia (SIG) telah memberikan kontribusi signifikan dalam pembangunan infrastruktur di Sumatera. Melalui anak

Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Tanggal 6 Februari 2025 Batal

Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Tanggal 6 Februari 2025 Batal

MEDIA DIALOG NEWS, Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memastikan pelantikan kepala daerah hasil Pilkada 2024 batal digelar

PHK Karyawan Sepihak, Aspara Desak Pj Bupati Batubara Cabut Izin  PT. BSI

PHK Karyawan Sepihak, Aspara Desak Pj Bupati Batubara Cabut Izin  PT. BSI

MEDIA DILAOG NEWS, Batu Bara - Puluhan massa dari Aliansi Mahasiswa Pemuda Batu Bara (ASPARA) menggelar aksi unjukrasa di Kantor

Kejaksaan Negeri Tanjungbalai Tetapkan Empat Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Hibah KPU   

Kejaksaan Negeri Tanjungbalai Tetapkan Empat Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Hibah KPU  

MEDIA DIALOG NEWS, Tanjungbalai, Jumat (19/12/2025) – Kepala Kejaksaan Negeri Tanjungbalai, Bobon Robiana, menyampaikan bahwa kasus dugaan korupsi di KPU

Camat Popayato Barat Apresiasi Kegiatan Mahasiswa KKS-T IAIN Gorontalo

Camat Popayato Barat Apresiasi Kegiatan Mahasiswa KKS-T IAIN Gorontalo

MEDIA DIALOG NEWS, Pohuwato –  Camat Popayato Barat mengapresiasi kegiatan gebyar Ramadhan yang mengusung tema "Membentuk Kreativitas Generasi Islam di

Dugaan Korupsi Dana Penanggulangan Covid 19 di Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan Pernah diarahkan KPK ke Kejaksaan Negeri Kisaran

Dugaan Korupsi Dana Penanggulangan Covid 19 di Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan Pernah diarahkan KPK ke Kejaksaan Negeri Kisaran

MEDIA DIALOG NEWS, Kisaran – Tim investigasi dialogberita.com dan mediadialognews.com menemukan adanya dokumen pelimpahan (tidak langsung, red) dari KPK ke

TNI AL Kembali Siapkan KRI, Embarkasikan Logistik Hingga Tabung Gas Kebutuhan Masyarakat

TNI AL Kembali Siapkan KRI, Embarkasikan Logistik Hingga Tabung Gas Kebutuhan Masyarakat

MEDIA DIALOG NEWS, Jakarta - TNI AL kembali mengerahkan unsurnya, kali ini KRI Surabaya-591 tengah persiapan untuk mendistribusikan logistik, ke

Realisasi TA 2024 : Penyediaan Layanan Kesehatan untuk UKM dan UKP Rujukan Tingkat Daerah di Dinas Kesehatan Asahan Capai Rp.30,4 Milyar  

Realisasi TA 2024 : Penyediaan Layanan Kesehatan untuk UKM dan UKP Rujukan Tingkat Daerah di Dinas Kesehatan Asahan Capai Rp.30,4 Milyar  

Laporan : Tim Investigasi PT.DIALOG ONLINE NEWS MEDIA DIALOG NEWS, Kisaran - Mata anggaran Penyediaan Layanan Kesehatan UKM dan UKP