MEDIA DIALOG NEWS, Kendal – Ancaman banjir akibat cuaca ekstrem memaksa warga Dusun Tegalrejo, Desa Rowosari, Kabupaten Kendal, bergerak sendiri memperbaiki tanggul darurat Kali Kuto yang kondisinya semakin mengkhawatirkan. Lambannya respons penanganan dari pihak berwenang membuat masyarakat memilih patungan biaya demi mencegah risiko jebolnya tanggul yang mengancam permukiman.
Data di lapangan menunjukkan debit air di Bendung Kedung Asem, Kali Kuto, kerap berada pada kisaran 200 hingga 250 sentimeter atau masuk kategori status Siap dan Siaga. Angka tersebut dinilai cukup berbahaya bagi tanggul yang kondisinya sudah rapuh dan terus tergerus usia serta abrasi.

Kepala Desa Rowosari, Luqman Zakaria, S.Sos., S.H., NL.P, menyebut kondisi tanggul saat ini sangat memprihatinkan. Penanganan sementara yang sebelumnya dilakukan melalui pemasangan trucuk bambu hasil swadaya warga kini tidak lagi mampu menahan tekanan air.
“Dulu sudah ada penanganan sementara dengan trucuk bambu, tapi sekarang sudah tidak kuat lagi dan bahkan sudah hilang. Kami berharap ada penanganan permanen dari pemerintah, namun sampai sekarang belum ada realisasi,” ujarnya, Minggu (8/2/2026).
Menurutnya, alasan keterbatasan anggaran menjadi jawaban yang selama ini diterima warga. Pihak PSDA Jawa Tengah bahkan sempat meninjau lokasi tanggul kritis dan disebut akan membantu penanganan sementara, namun hingga kini belum ada kejelasan lanjutan. Sementara itu, kemampuan anggaran desa juga tidak mencukupi untuk memperbaiki seluruh kerusakan.
Kondisi tersebut memaksa warga melakukan swadaya dengan iuran untuk memperbaiki tanggul sepanjang kurang lebih 70 meter menggunakan trucuk pancang bambu, dengan dukungan sebagian anggaran dari Pemerintah Desa Rowosari.
Kritik keras disampaikan tokoh masyarakat setempat, Siswanto. Ia mempertanyakan lambannya langkah konkret dari pemerintah daerah meskipun kondisi tanggul dinilai sudah berada pada tahap kritis.
“Kenapa pihak terkait belum bergerak cepat? Kondisi tanggul sudah sangat rawan. Apa harus menunggu jebol dulu baru ditangani?” tegasnya.
Ia menambahkan, meskipun status Bendung Kedung Asem masih dikategorikan Siap dan Siaga, fakta di lapangan menunjukkan tanggul Kali Kuto di Dusun Tegalrejo sudah beberapa kali tergerus abrasi pada tahun sebelumnya. Hal tersebut menjadi indikator bahwa struktur tanggul tidak lagi mampu menahan tekanan debit air saat musim penghujan.
Upaya swadaya warga pun tidak lepas dari risiko. Dalam kegiatan gotong royong pemasangan trucuk pancang bambu, seorang warga bernama Giono mengalami cedera ringan akibat terpeleset dan harus mendapat penanganan di Puskesmas Rowosari 1. Insiden ini mempertegas bahwa penanganan tanggul seharusnya tidak terus dibebankan kepada masyarakat.
Tanpa intervensi cepat dari pemerintah daerah maupun instansi terkait, tanggul yang terus melemah berpotensi jebol sewaktu-waktu dan mengancam keselamatan ratusan warga serta lahan pertanian di sekitar Kali Kuto. Swadaya masyarakat memang menunjukkan kepedulian tinggi, namun menjadi ironi ketika perlindungan terhadap warga justru bergantung pada patungan, bukan pada infrastruktur yang semestinya dijamin negara. (Rizal Firmansyah)

