MEDIA DIALOG NEWS – Dari motor butut yang mengantar koran setiap pagi hingga kursi parlemen yang kini ia duduki, Kiki Komeini membuktikan bahwa konsistensi dan keberanian memilih jalan hidup adalah kunci untuk mengubah nasib. Kisahnya bukan sekadar tentang politik, melainkan tentang perjuangan seorang anak muda yang tak pernah menyerah pada keterbatasan.

Masa Kecil dan Pendidikan
Setiap perjalanan besar selalu dimulai dari keyakinan kecil. Bagi Kiki, pendirian adalah prinsip hidup yang tidak boleh digadaikan. “Merubah pendirian, karena tidak mau menjaga komitmen, karena tidak konsisten. Padahal itu tidak boleh,” ucapnya di sela-sela wawancara.
Kiki mengenang masa SMA-nya, Aku suka dengan PDI sejak kelas 1 SMA tahun 2001, tetapi karena aku masih remaja aku suka sama PDIP karena gambar kepala bantengnya. “Kalau aku besar, nanti aku mau ikut menjadi anggota PDIP,” ucapku dalam hati saat itu.
Tahun 2004 aku tamat SMA, kemudian kuliah di Universitas Muhammadiyah Kisaran. Pada saat itu aku nyambi kerja sebagai loper koran harian Batak Pos. Karena situasi perekonomian orang tua tidak mampu menguliahkan aku, makanya aku kuliah sambil kerja.
Aku anak ke-3 dari 7 bersaudara. Jadi dulu, jangankan untuk pendidikan, makan saja kami kekurangan. Dari sekolah aku suka mandiri, apa saja yang menjadi peluang kerja aku kerjakan. Aku lebih suka numpang di tempat nenek, karena nenek kami pedagang aku membantu jualan, dapatlah aku uang jajan dan biaya sekolahku.

Saat kuliah aku tak malu bekerja sebagai loper naik motor butut, yang penting pekerjaanku halal. Selesai aku mengantar koran dari jam 6 pagi sampai 9, lanjut aku membantu nenekku jaga toko berjualan, baru kemudian jam 1 siang aku kuliah. Begitulah rutinitasku, dengan penghasilan cukup untuk membiayai kuliahku.
Barangkali aku terinspirasi saudara-saudaraku yang giat bersekolah. “Bapak juga dulu suka berorganisasi, makanya aku nurun ayah, sepertinya buah tidak jauh jatuh dari pohonnya,” ucapnya.
Karena aku dinilai berhasil menjadi loper koran, aku sempat berlatih menjadi wartawan dan menulis berita-berita di Harian Batak Pos. Tahun 2006 aku diangkat menjadi wartawan. Pada saat yang bersamaan di kampus, aku maju menjadi kandidat ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Asahan. Aku terpilih sebagai ketuanya. Karena kesibukan kuliah dan berorganisasi, tahun 2009 aku berhenti menjadi wartawan, sekaligus berhenti sebagai loper koran.
Menurutku, berorganisasi itu selain banyak menyita waktu, mesti pula keluar modal besar yang dibutuhkan, padahal untuk hidupku sendiri saja masih kurang. Tetapi banyak abang senior di IMM yang mensupport aku secara finansial. Sebagai ketua, aku justru sering ditraktir kawan-kawan daripada aku sendiri yang mentraktir anggota.

Merantau ke Medan
Setelah menempuh kerasnya dunia kampus dan organisasi, Kiki menghadapi babak baru: merantau ke kota besar. Medan, ibu kota provinsi yang asing baginya, menjadi panggung baru perjuangan sekaligus ujian hidup.
Menjabat ketua IMM aku sampai tahun 2012, meski aku diwisuda tahun 2010. Selesai tamat kuliah dan berakhir masa di organisasi ekstrakurikuler lokal, aku diusulkan maju di Provinsi, tetapi aku tidak mau. Aku mau kerja, tapi kerja apa? Di Medan, ibu kota provinsi yang asing bagiku.
Pada tahun 2012 ini pula aku menikah, kebutuhan keluarga mendesakku untuk bekerja dan berpikir bagaimana caranya mencari uang halal untuk menafkahi istri dan anak-anakku.
Tahun 2012 sampai 2015 aku bekerja di perbankan: Danamon, Bank Mega, terakhir di Bank DBS sebagai Branch Manager. Dari ketiga bank ini aku merasakan sistem kerja yang dibangun tidak sesuai dengan hati nuraniku. Meski aku mendapatkan posisi yang baik, tetapi aku prihatin dengan anggota-anggotaku yang setiap hari dikejar target pencapaian. “Aku tidak sanggup melihat beban kerja dan penghasilan anggotaku yang tidak memadai karena tidak mencapai target,” imbuhnya.
Pernah sekali waktu aku membela anggota yang dituduh menerima suap, gratifikasi dari nasabah. Padahal kawan kerjaku ini bukan meminta, tidak korupsi, tetapi diberi oleh nasabah karena dia berhasil meminjam kredit. “Makanya aku membelanya habis-habisan, hingga aku mundur dari pekerjaanku,” ucapnya mengenang.

Awal Kiprah di Politik
Kepulangan ke kampung halaman membuka jalan lain bagi Kiki. Jika sebelumnya ia sempat berpikir kembali ke dunia wartawan, kini politik memanggilnya lebih kuat. Pertemuan tak sengaja dengan Rosmansyah, STP menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya.
Kembali ke kampung halaman di tahun 2015, aku pernah berpikir mau menjadi wartawan lagi seperti dulu, tetapi ketertarikanku kepada organisasi semakin besar. Apalagi kakak senior di IMM yang kebanyakan berpolitik di Partai Amanat Nasional (PAN) membuatku semakin yakin aku bisa mengikuti jalan mereka. Tetapi rumahku bukan di PAN, melainkan di PDIP seperti mimpiku waktu kecil.
Tahun 2015, aku jumpa dengan tokoh PDIP Asahan, Bang Rosmansyah, STP, secara tidak sengaja dalam sebuah acara partai. Dari pertemuan pertamaku itu, aku semakin tertarik masuk PDIP karena aku melihat di PDIP banyak orang-orang pintar yang memahami masalah lokal dan nasional. Apalagi Bang Rosmansyah menyambut baik perkenalanku, aku sering berkomunikasi, bertanya, dan banyak belajar tentang politik dan cita-cita ke depan.

Kemana dan dimana Bang Rosmansyah berada, aku selalu menemaninya. Dari mulai menjadi sopirnya, asistennya, ajudannya, sampai aku dipercaya menjabat Ketua Repdem, sebuah organisasi sayap PDIP Kabupaten Asahan, menggantikan posisi Rosmansyah yang sudah menduduki kursi legislatif di DPRD Asahan.
Setelah aku masuk PDIP banyak teman, kolega, bahkan seniorku di IMM dan PAN menyayangkan pilihanku. Apalagi pada tahun 2019 ketika aku dicalonkan oleh PDIP Asahan sebagai calon anggota legislatif (Caleg) di Daerah Pemilihan Lima (Dapil 5) yang meliputi Kecamatan Air Batu dan Sei Dadap. Mereka menyangka aku dimanfaatkan menjadi vote getter, padahal aku menganggap majunya aku sebagai caleg untuk pertama kali adalah sebagai pembelajaran politik, meskipun akhirnya aku kalah.
“Sebelumnya aku ditawari maju di dapil yang sama dengan Bang Rosmansyah, tapi aku tak mau,” ucapnya mengingat, sembari menambahkan bahwa di politik ini tidak boleh memaksakan kemauan diri kita sendiri. Bahwa analisis keterpilihan, konstituen, peluang, ancaman, dan tantangan selalu dilakukan secara kolektif bersama di dalam internal partai. “Kita boleh mempunyai pendapat pribadi, tetapi tidak boleh memaksakan keinginan personal,”
Perjuanganku mendukung Bang Rosmansyah dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Asahan tidak surut, meskipun aku tidak memiliki jabatan di DPRD. “Mungkin belum rezeki Bang Rosmansyah menjabat sebagai Bupati Asahan, sehingga dia kalah. Kami semua berduka, tetapi perjuangan masih panjang.
Persiapan Pemilihan Legislatif Tahun 2024 harus dimulai sejak dini. Siapa yang duluan mempersiapkan basis, maka dia berpeluang menang, begitu pendapatku.” Ujar Kiki meyakinkan.
Kemenangan di Pemilu 2024
Setelah jatuh bangun dalam kontestasi politik, Kiki kembali mencoba peruntungan di dapil yang baru. Banyak yang meragukan langkahnya, namun keyakinan dan kerja keras membuatnya membuktikan bahwa keraguan orang lain bukanlah batasan.
Tahun 2024, aku maju lagi di Dapil 7 yang terdiri dari tiga kecamatan, yaitu Meranti, Pulo Bandring, dan Rawang. Penempatan aku di dapil ini dianggap tidak berpeluang menjadi anggota legislatif terpilih. “Banyak faktor yang menghalanginya, tetapi aku yakin karena aku maju melalui Partai PDIP yang memberikan kebebasan kepadaku untuk mencari basis massa dari konstituen parpol, aku juga dekat dengan kader-kader PDIP di dapilku,” katanya.

Pada saat itu dalam Musyawarah Daerah (Musda) PDIP Kiki dipercaya mendududki Kepala Bidang Organisasi DPC PDIP Kabupaten Asahan. “Aku punya pekerjaan untuk mendampingi organisasi ke basis-basis massa di kecamatan untuk koordinasi dan pengkaderan, makanya aku yakin ini saatnya aku bisa meraih kemenangan.” lalu dia menambahkan “Singkat cerita, meski banyak orang yang meragukanku, aku tampil menang di daerah pemilihan yang baru..!” ucapnya mengenang.
Sekarang aku bisa memperjuangkan aspirasi masyarakat Asahan melalui jalur legislatif. Setiap pengaduan rakyat yang terkait dengan bidang yang aku tanggungjawabi, aku segerakan memanggil para pihak untuk Rapat Dengar Pendapat (RDP). Di dalam musyawarah itu kita bisa memahami masalah dari para pihak dan menemukan solusi dari persoalan yang dihadapi rakyat.
“Bagiku jabatan ini sebagai amanah rakyat, kerjaku bukan hanya untuk konstituen di tiga kecamatan tempat daerah pemilihanku saja, tugasku untuk seluruh Kabupaten Asahan dalam batas-batas yang diberikan oleh kewenangan sebagai wakil rakyat,” ucap Kiki mengakhiri.
Perjalanan Kiki Komeini adalah bukti bahwa mimpi masa kecil bisa bertahan, tumbuh, dan akhirnya berbuah menjadi amanah besar. Dari loper koran hingga legislator, kisahnya menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Kisah Kiki Komeini menjadi pengingat bahwa mimpi masa kecil, jika dijaga dengan konsistensi, dapat tumbuh menjadi amanah besar bagi masyarakat. (Edi Prayitno)
Pengumuman
Dialog Berita bersama Media Dialog News saat ini tengah melakukan pencarian 100 figur tokoh Kabupaten Asahan untuk ditulis riwayat hidup singkat serta perannya di berbagai bidang.
Tokoh-tokoh tersebut akan dipilih berdasarkan kiprah, kontribusi, dan keteladanan yang layak dijadikan panutan bagi masyarakat. Bidang yang dimaksud mencakup pemerintahan, pendidikan, kesehatan, jurnalistik, olahraga, agama, hukum, politik, budaya, ekonomi, sosial, hingga gerakan masyarakat sipil.
Kami mengundang partisipasi pembaca untuk mengusulkan nama tokoh yang dianggap layak masuk dalam daftar ini. Usulan dapat dikirimkan ke redaksi dengan format:
- Nama Tokoh : ——————————
- Nomor Ponsel Tokoh : ——————
- Bidang Kiprah : —————————
- Alasan singkat mengapa tokoh tersebut layak dijadikan panutan : ————
Kirimkan usulan melalui email: edi_batakpos@yahoo.com atau WhatsApp: 0889-9737-2905
Hasil pencarian ini akan dipublikasikan secara bertahap dalam bentuk tulisan feature, sehingga masyarakat dapat mengenal lebih dekat figur-figur inspiratif dari Asahan. Pada akhirnya, 25 tokoh terpilih akan diseleksi kembali untuk diterbitkan menjadi sebuah buku.
(Redaksi Dialog Berita & Media Dialog News)

