Media Dialog News

Rela Melepaskan Mimpi Dokter, Sahata Turnip Memilih Jalan Guru : “Pengabdian sejati lahir dari ketulusan”

MEDIA DIALOG NEWS – Sahata Turnip lahir di tepian Danau Toba, Desa Salbe, Kabupaten Simalungun. Anak tunggal dari pasangan St.Salmon Turnip dan Guntamin br. Silalahi ini tumbuh dalam keluarga petani sederhana. Sejak kecil ia sudah terbiasa berjalan kaki sejauh 4 km menuju Tigaras, kota kecamatan terdekat. Hidup di desa membuatnya akrab dengan keterbatasan, namun juga menumbuhkan kemandirian.

Ibunya sakit-sakitan, sementara ayahnya bekerja keras di ladang untuk menopang keluarga. Meski begitu, semangat ayahnya untuk mendukung pendidikan anak tunggalnya tak pernah surut. “Bapak tidak mampu secara finansial, tapi semangatnya luar biasa mendukung cita-cita saya,” kenang Sahata.

Meski hidup dalam keterbatasan, Sahata kecil tumbuh dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia terbiasa membaca apa saja yang ditemuinya—koran bekas, buku pinjaman, atau catatan sekolah—sebagai cara untuk membuka jendela dunia. Dari kebiasaan sederhana itu, lahirlah mimpi besar: bisa bersekolah di kota dan menembus batas kampung halamannya. Tekad itu menjadi bahan bakar yang membuatnya tak gentar menempuh perjalanan jauh setiap hari, meski hanya dengan bekal seadanya.

Lingkungan desa yang keras justru membentuk karakter Sahata menjadi pribadi yang tabah dan pantang menyerah. Ia belajar sejak dini bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari lingkaran kemiskinan. Dukungan moral dari ayahnya, meski tanpa kemampuan finansial yang memadai, menjadi fondasi kuat bagi langkah-langkahnya. Dari ladang sederhana di Desa Salbe, tumbuhlah keyakinan bahwa anak tunggal ini kelak akan membawa nama keluarga dan kampungnya ke panggung yang lebih luas.

Perjuangan di Sekolah

Sejak SMP di Negeri 1 Dolok Pardamean, Sahata sudah harus kost karena jarak rumah ke sekolah terlalu jauh. Setiap akhir pekan ia pulang ke kampung membawa bekal beras, cabai, tomat, dan sayur dari ladang. Hidup mandiri sejak remaja membuatnya terbiasa menanggung beban sendiri.

Hari-hari kost di Dolok Pardamean bukanlah masa yang mudah bagi Sahata. Ia harus mengatur sendiri segala kebutuhan, dari memasak nasi hingga mencuci pakaian. Bekal beras dan sayur dari kampung menjadi penopang utama, sementara lauk sering kali seadanya. Namun dari kesederhanaan itu ia belajar arti disiplin dan tanggung jawab. “Kalau tidak saya yang mengurus, siapa lagi?” begitu pikirnya setiap kali rasa lelah datang.

Setiap kali pulang ke kampung pada akhir pekan, Sahata merasakan kembali hangatnya rumah meski sederhana. Ia membantu ayah di ladang, lalu kembali ke kost dengan perbekalan baru. Perjalanan pulang-pergi itu bukan sekadar rutinitas, melainkan pengingat bahwa perjuangannya di kota adalah demi harapan keluarga. Ayahnya selalu menyemangati, meski dengan kata-kata singkat, bahwa sekolah adalah jalan untuk mengubah nasib.

Cita-citanya sederhana: bisa bersekolah di kota. Ia menargetkan SMA Negeri 2 Pematang Siantar, sekolah favorit yang sering tampil di Cerdas Cermat TVRI. Meski nilai ujian SMP-nya relatif rendah dibanding standar kota, ia tetap optimis. Dukungan ayah dan hobinya membaca koran bekas membuatnya semakin gigih mengejar impian.

Namun, masuk SMA bukan tanpa tantangan. Bahasa Indonesia yang belum lancar membuatnya sering dibully. “Saya anak pertama dari satu bersaudara,” ucapnya polos saat perkenalan, yang membuat satu kelas tertawa. Dari situlah ia baru sadar bahwa istilah yang tepat adalah anak tunggal.

Hampir satu semester ia menutup diri, jarang bergaul, dan lebih banyak belajar sendiri. Untungnya, teman sebangku yang anak pendeta sabar mengajarinya berbahasa Indonesia. Perlahan, Sahata mulai beradaptasi dan percaya diri.

Setiap kali guru meminta siswa membaca atau menjawab pertanyaan, Sahata memilih diam. Ia takut salah ucap, takut ditertawakan. Bahkan saat bel istirahat, ia lebih sering duduk di bangku sendirian, menunduk sambil menyalin catatan. Kesepian itu membuatnya semakin tekun belajar, seolah buku menjadi satu-satunya teman yang bisa ia percaya.

“Sekolah itu jalan keluar,” kata ayahnya suatu kali. Kalimat sederhana itu menjadi pengingat bahwa perjuangan bukan sekadar untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk keluarga. Setiap kali rasa minder datang, ia membayangkan wajah ayah yang penuh harapan. Dari situlah muncul keberanian kecil untuk mencoba berbicara, meski terbata-bata.

Cita-cita dan Perkuliahan

Ia sangat mengidolakan B.J. Habibie, Sahata sempat bercita-cita menjadi insinyur dan masuk ITB. Namun keterbatasan biaya membuatnya realistis. Ia kemudian mengikuti program beasiswa D3 Matematika di FMIPA USU, sebuah proyek nasional yang menyiapkan guru-guru sains untuk SMA. Kuliah ini gratis bahkan memberi uang saku, sehingga menjadi jalan keluar bagi Sahata.

Di semester awal, nilainya memuaskan. Namun dorongan teman membuatnya mencoba Fakultas Kedokteran USU. Ia lulus dengan nilai terbaik, lalu menjalani dua kuliah sekaligus: sore di FMIPA, pagi di Kedokteran. Untuk membiayai hidup, ia mengajar les di Bimbingan Belajar BIMA.

Pagi hari ia mengenakan jas putih kedokteran, belajar anatomi dan fisiologi, sementara sore harinya ia kembali ke ruang kuliah matematika, tenggelam dalam rumus dan angka. Malamnya, ia masih harus mengajar les di bimbingan belajar untuk menutup biaya hidup. “Tidur hanya sebentar, tapi semangat saya besar,” kenangnya. Hidupnya seolah terbagi dalam tiga dunia: mahasiswa kedokteran, mahasiswa MIPA, dan guru les.

Ketika SK penempatan sebagai guru keluar tahun 1994, ia ditempatkan di SMP Negeri 1 Meranti. Harapannya menjadi guru SMA pupus karena kebijakan wajib belajar 9 tahun. Kuliah kedokterannya pun terganggu.

Sahata sering merasa terhimpit antara cita-cita pribadi dan kenyataan ekonomi. Ia tahu kuliah kedokteran membutuhkan biaya besar, sementara beasiswa MIPA memberinya jaminan hidup. Di satu sisi, ia ingin menjadi dokter yang bergengsi; di sisi lain, ia sadar bahwa menjadi guru adalah jalan yang lebih realistis. Pergulatan batin itu membuatnya sering termenung, bertanya apakah ia sedang mengejar mimpi atau sekadar bertahan hidup.

Meski awalnya kecewa karena tidak ditempatkan di SMA, Sahata perlahan menerima kenyataan. Ia melihat wajah-wajah murid SMP yang penuh harapan, dan di sanalah ia mulai merasakan panggilan sejati sebagai pendidik. “Saya sadar, mungkin bukan dokter yang harus saya kejar, tapi guru yang membentuk masa depan anak-anak,” ujarnya. Dari kekecewaan itu lahir kesadaran baru: bahwa pengabdian tidak selalu sesuai dengan rencana, tetapi bisa lebih bermakna dari apa yang dibayangkan.

Kehilangan Ayah dan Titik Balik

Hari wisuda D3 Matematika, 24 Oktober 1993, menjadi momen paling pahit. Ayahnya yang sakit kanker usus wafat tepat di hari itu. “Undangan wisuda saya berikan kepada ayah, tapi beliau bilang tidak akan datang karena sakit. Hari itu saya sendirian, lalu pulang ke kost. Tak lama datang kabar ayah berpulang,” kenangnya dengan haru.

Perjalanan pulang ke Desa Salbe penuh duka. Ayah yang selalu mendukung cita-citanya tak sempat melihat anaknya tamat kuliah. Kehilangan itu menjadi luka mendalam sekaligus titik balik dalam hidup Sahata.

Di tengah keramaian mahasiswa yang merayakan bersama keluarga, Sahata berdiri sendiri, menatap toga di kepalanya dengan perasaan hampa. Tidak ada pelukan ayah, tidak ada senyum ibu, hanya kesunyian yang menekan dadanya. Saat kabar duka datang, ia merasa seolah dunia runtuh di hadapannya.

Jalanan rusak, gelap, dan berliku, seakan mencerminkan hatinya yang remuk. Setiap kilometer yang ditempuh hanya menambah rasa sesak, karena ia tahu ayah yang selalu menjadi sumber semangat kini telah tiada. Saat tiba di rumah pukul 11 malam, suasana duka menyelimuti seluruh keluarga. Tangisan kerabat bercampur dengan rasa kehilangan yang tak terlukiskan.

Sahata menyadari bahwa perjuangan ayahnya tidak boleh berhenti bersamaan dengan kepergiannya. Justru dari kehilangan itu ia menemukan panggilan untuk melanjutkan cita-cita: menjadikan pendidikan sebagai jalan hidup. “Bapak tidak sempat melihat saya di wisuda, tapi semangatnya akan selalu saya bawa,” ucapnya. Sejak saat itu, setiap langkahnya di dunia pendidikan adalah bentuk penghormatan kepada ayah yang telah berkorban demi masa depannya.

Menjadi Guru dan Berkeluarga

Tahun 1995, atas desakan ibu, Sahata menikah dengan seorang perempuan asal Kisaran yang bekerja sebagai honorer di Polres Asahan. Di Meranti inilah Sahata membangun rumah tangganya. Penghasilannya sebagai seorang guru tidak mencukupi kebutuhan keluarga, apalagi setahun setelah menikah ia sudah dikaruniai buah hati. “Enam belas tahun saya di Kecamatan Meranti, mulai dari guru kelas matematika, kemudian pindah ke SMP Negeri 1 Setia Janji,” kenangnya.

Sebenarnya ia sempat patah arang dan tidak mau melanjutkan kuliah S-1. Untuk menambah perekonomian keluarga, Sahata turun ke sawah. “Saya mencangkul dan tanam padi sepulang dari sekolah,” ujarnya. Dari pagi hingga siang ia mengajar, sore hingga petang ia berkeringat di ladang. Hidupnya benar-benar terbagi antara dunia pendidikan dan dunia pertanian.

Selain bertani, jiwa dagangnya pun tumbuh. Bersama istri tercinta, mereka mencoba berbagai usaha kecil: menjual telur bebek, sayur dan buah, membuka kedai tuak, hingga bisnis pupuk subsidi. Usaha terakhir bahkan berkembang pesat, menjadikannya penyalur pupuk subsidi bagi petani di Kecamatan Meranti. Kesibukan mengajar dan berbisnis membuatnya enggan kuliah lagi. Namun entah mengapa, selalu ada orang baik yang mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan. Sambil bercanda ia berkata, “Itulah kalau orang baik selalu bertemu dengan orang baik.”

Dorongan itu akhirnya membuahkan hasil. Tahun 2001 ia berhasil menamatkan S-1 di Universitas Muslim Nusantara (UMN) Alwasliyah Medan, tetap konsisten pada disiplin ilmu Matematika. Delapan tahun kemudian, ia melanjutkan S-2 di sebuah universitas swasta di Medan. Meski awalnya tidak pernah bercita-cita menjadi kepala sekolah, ia berharap suatu hari bisa menjadi pengawas sekolah. Namun takdir berkata lain.

Pada tahun 2010, ia ditawari menjadi Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Setia Janji. Awalnya ia menolak, merasa belum siap. Tetapi dorongan sang istri membuatnya menerima tanggung jawab itu. “Kalau bukan kamu, siapa lagi?” kata istrinya, yang selalu menjadi penopang semangat. Keputusan itu menjadi titik baru dalam perjalanan kariernya.

Februari 2011, ia dimutasi ke SMP Negeri 2 Setia Janji, masih sebagai kepala sekolah, meski dengan jumlah murid yang lebih sedikit. Hingga tahun 2014 ia bertugas di sana. Tahun 2013, sebuah keributan pendidikan di Desa Gajah membuat Dinas memintanya mundur dari jabatan kepala sekolah. Ia kemudian ditempatkan sebagai guru matematika di SMK Negeri 1 Meranti selama dua tahun.

Namun, dedikasi dan ketekunannya tidak pernah surut. Pada tahun 2016, ia akhirnya dilantik sebagai Kepala Sekolah di tempat ia mengajar. Bagi Sahata, jabatan itu bukan sekadar posisi, melainkan amanah untuk membimbing generasi muda. Dari sawah, dari kedai kecil, hingga ruang kelas, ia membuktikan bahwa pengabdian sejati lahir dari ketekunan dan cinta pada pendidikan.

Menata Sekolah dan Menghadapi Tantangan

Kebetulan di SMK Negeri 1 Meranti mayoritas murid dan gurunya beragama Kristen, sama seperti Sahata. Ia tidak asing lagi menata sekolah tersebut karena sudah memahami akar masalah yang membuat suasana belajar kurang kondusif. Namun ada hal yang mengganjal hatinya: grafik jumlah siswa terus menurun dari tahun ke tahun. Setelah berkeliling ke seluruh SMK di Asahan, ia menemukan fakta bahwa hanya ada dua sekolah yang belum memiliki mushola, salah satunya SMK Negeri 1 Meranti.

Sahata pun berpikir, “Penduduknya mayoritas non-Muslim, muridnya mayoritas non-Muslim, tapi jika dibiarkan murid akan semakin menurun, karena calon siswa yang Muslim tidak mau bersekolah di SMK Negeri 1 Meranti.” Baginya, sekolah negeri harus bersifat nasionalis, memberi ruang bagi semua pemeluk agama untuk menjalankan ibadahnya.

Pada tahun pertama menjabat sebagai Kepala Sekolah, bertepatan dengan acara Maulid Nabi, ia mengumpulkan guru-guru yang beragama Islam dan mengultimatum: mushola harus dibangun. Ia berjanji akan mendukung sepenuh hati, karena ia percaya pendidikan karakter dimulai dari keluarga dan diperkuat oleh pendidikan agama. “Melalui pendidikan agama kita masing-masing, anak-anak akan tumbuh menjadi manusia yang bermoral, berkarakter, dan saling menghargai sesama,” tegasnya.

Tahun 2017 pembangunan mushola dimulai. Saat ia masih menjabat pada tahun 2022, mushola itu sudah bisa digunakan, lengkap dengan ambal, sajadah, bahkan dipasangi AC. Bagi Sahata, mushola bukan sekadar bangunan, melainkan simbol keterbukaan dan penghormatan terhadap keberagaman.

Namun, tak lama kemudian ia menerima SK mutasi ke SMK Negeri 2 Kisaran. Sekolah itu jauh lebih besar, jumlah muridnya banyak, dan kabarnya penuh persoalan internal. Sahata sempat menolak, merasa takut menghadapi beban yang begitu besar. Bahkan sebagian rekan guru berbisik bahwa ia “ditumbalkan” untuk mengatasi masalah yang sudah lama mengakar.

“Sempat juga saya shock, karena di internal terjadi perpecahan. Dalam pikiran saya, jangan-jangan saya bukannya menyelesaikan masalah, tetapi menimbulkan masalah,” kenangnya. Ada keraguan besar dalam dirinya, apalagi sebagai seorang non-Muslim yang harus memimpin sekolah dengan mayoritas siswa dan guru beragama Islam.

Namun sekali lagi, dukungan sang istri menjadi penopang utama. “Kamu mampu, jangan mundur,” ucap istrinya penuh keyakinan. Kata-kata itu menjadi energi baru. Sahata pun memilih bertahan, perlahan-lahan mencari akar masalah, dan menyelesaikannya satu per satu bersama guru dan siswa. Ia belajar bahwa kepemimpinan bukan soal agama atau latar belakang, melainkan soal kejujuran, keberanian, dan ketulusan hati.

Di SMK Negeri 2 Kisaran

Pertama kali Sahata menjalankan tugas di SMK Negeri 2 Kisaran, banyak guru dan murid bertanya-tanya tentang siapa dirinya dan dari mana ia berasal. Namun ia tidak merasa asing berada di lingkungan mayoritas Muslim, sebab sejak kecil ia dibesarkan dalam keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai toleransi. “Perbedaan itu bukan hal yang perlu ditakuti,” ujarnya. Keyakinan itu membuatnya mantap melangkah, meski ia tahu betul bahwa internal sekolah sedang menghadapi banyak masalah dan terkotak-kotak. Ia pun bertekad menata dan membenahi keadaan.

Saat itu ia berpikir, “Sebaik apa pun saya bekerja di sekolah ini, jika tidak mampu menaikkan nama sekolah, maka tidak ada artinya sama sekali.” Maka program utama setelah penataan internal adalah menjadikan SMK Negeri 2 Kisaran sebagai Sekolah Pusat Keunggulan (PK). Di Kabupaten Asahan belum ada satu pun SMK berpredikat PK, bahkan di wilayah V hanya ada satu SMK PK di Batubara, itupun sekolah swasta. Obsesi Sahata jelas: dalam satu tahun sekolah ini harus meraih predikat Pusat Keunggulan.

Kerja keras itu membuahkan hasil. Juli 2022 ia mulai bertugas, dan pada Maret 2023 SMK Negeri 2 Kisaran resmi ditetapkan oleh Dirjen sebagai SMK Negeri Pusat Keunggulan Skema Pemadanan. “Tidak sampai setahun, kerja keras kami semuanya di sekolah ini membuahkan hasil,” kenangnya penuh syukur. Skema pemadanan berbeda dengan reguler, karena sekolah harus memiliki mitra dari dunia usaha dan industri yang siap menerima lulusan. Di Sumatera Utara saat itu hanya ada dua SMK dengan predikat Pemadanan: SMK Negeri 8 Medan dan SMK Negeri 2 Kisaran.

Setelah itu, prestasi sekolah datang silih berganti. Hampir setiap bulan, siswa-siswi meraih piala atau penghargaan dari berbagai perlombaan. Di internal sekolah, Sahata merapikan fasilitas yang ada sekaligus menambah yang belum tersedia. Salah satu langkah besar adalah memugar mushola yang sudah 22 tahun tidak pernah diperbaiki. Biaya yang dibutuhkan lebih dari Rp.200 juta, namun berkat semangat gotong royong guru dan murid, pembangunan bisa selesai dengan dana mandiri. “Dari kita untuk kita, mushola bisa selesai dengan biaya gotong royong,” ujarnya.

Tidak berhenti di situ, ia juga menghidupkan kembali kegiatan pengajian bulanan yang sebelumnya tidak pernah ada. Baginya, pendidikan karakter harus ditopang oleh kehidupan beragama yang sehat. “Di Meranti saja yang mayoritas non-Muslim ada pengajian rutin bulanan, masak di sini tidak ada?” katanya. Langkah ini terbukti memperkuat kerukunan, kebersamaan, dan kesatuan para guru serta staf.

Prestasi paling membanggakan adalah lulusan SMK Negeri 2 Sei Renggas yang selalu diminati perusahaan bergengsi. Alumni sekolah ini diterima bekerja di Auto 2000 Medan, bahkan ada yang berangkat ke Jepang. Setiap kali diadakan job fair, lulusan sekolah ini selalu diserap pasar tenaga kerja. “Kami menyiapkan anak didik melalui program ekstrakurikuler yang bermanfaat, mendukung hobi sekaligus pelajaran mereka di sekolah,” ujar Sahata meyakinkan.

Tentang Keluarga – Penutup dan Refleksi

Saat ini Sahata Turnip dikaruniai lima anak. Putri sulungnya telah berkeluarga, sementara anak kedua bekerja di biro jasa. Anak ketiga baru menyelesaikan kuliah di Poltekip Jakarta (Sekolah Kedinasan di bawah naungan Kemenkumham, red) dan kini bertugas BKO di Rutan luar Sumatera Utara. Anak keempat, seorang putra, memilih jalan pengabdian sebagai prajurit TNI dan baru saja dilantik di Rindam tahun ini. Sedangkan si bungsu, putri kecil berusia empat tahun, baru mulai menapaki langkah pertamanya di bangku Taman Kanak-Kanak.

Membesarkan dan menyekolahkan kelima anak bukanlah perkara mudah. Semua dijalani dengan kerja keras dari usaha pertanian dan berbagai usaha keluarga. “Saya mencangkul, menanam padi, berdagang, apa saja yang bisa menambah penghasilan,” kenangnya.

Sebagai tambahan, sang istri pernah menjabat satu periode sebagai wakil rakyat di DPRD Asahan dari Partai PDIP, yang turut menopang ekonomi keluarga. “Saya tidak pernah mencampuri pekerjaan istri saya, begitu pun istri saya tidak pernah mencampuri pekerjaan saya. Tetapi kami berdua saling belajar dan saling menyemangati,” ucapnya.

Bagi Sahata, keluarga adalah sumber kekuatan sekaligus alasan utama untuk terus berjuang. Ia tidak pernah bergantung semata-mata pada gaji guru atau jabatan kepala sekolah, melainkan berusaha maksimal mencari sumber rezeki yang halal dan bermanfaat. “Kami berusaha sekuat tenaga, bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi untuk memastikan anak-anak bisa tumbuh dengan pendidikan yang layak,” pungkasnya.

Refleksi hidup Sahata sederhana namun dalam: pengabdian bukan hanya pada murid di sekolah, tetapi juga pada keluarga yang ia besarkan dengan penuh cinta dan kerja keras. Dari ladang, ruang kelas, hingga ruang keluarga, ia membuktikan bahwa seorang guru sejati adalah mereka yang tidak hanya mengajar, tetapi juga memberi teladan tentang ketekunan, pengorbanan, dan kasih sayang.

“Saya ingin anak-anak bangsa tahu, bahwa jalan pengabdian tidak selalu sesuai dengan mimpi awal kita. Tapi jika dijalani dengan ketulusan, hasilnya akan lebih indah dari yang kita bayangkan.”

(Edi Prayitno)

Pengumuman

Dialog Berita bersama Media Dialog News saat ini tengah melakukan pencarian 100 figur tokoh Kabupaten Asahan untuk ditulis riwayat hidup singkat serta perannya di berbagai bidang.

Tokoh-tokoh tersebut akan dipilih berdasarkan kiprah, kontribusi, dan keteladanan yang layak dijadikan panutan bagi masyarakat. Bidang yang dimaksud mencakup pemerintahan, pendidikan, kesehatan, jurnalistik, olahraga, agama, hukum, politik, budaya, ekonomi, sosial, hingga gerakan masyarakat sipil.

Kami mengundang partisipasi pembaca untuk mengusulkan nama tokoh yang dianggap layak masuk dalam daftar ini. Usulan dapat dikirimkan ke redaksi dengan format:

  • Nama Tokoh : ——————————
  • Nomor Ponsel Tokoh : ——————
  • Bidang Kiprah : —————————
  • Alasan singkat mengapa tokoh tersebut layak dijadikan panutan : ————

Kirimkan usulan melalui email: edi_batakpos@yahoo.com atau WhatsApp: 0889-9737-2905

Hasil pencarian ini akan dipublikasikan secara bertahap dalam bentuk tulisan feature, sehingga masyarakat dapat mengenal lebih dekat figur-figur inspiratif dari Asahan. Pada akhirnya, 25 tokoh terpilih akan diseleksi kembali untuk diterbitkan menjadi sebuah buku.

(Redaksi Dialog Berita & Media Dialog News)

Berita Terbaru

Video Terbaru

Placement tidak ditentukan.

Berita Lainnya

PPWI Kecam Keras Penangkapan, Penyiksaan, dan Pembunuhan Wartawan dalam Aksi Mahasiswa 25–30 Agustus 2025

PPWI Kecam Keras Penangkapan, Penyiksaan, dan Pembunuhan Wartawan dalam Aksi Mahasiswa 25–30 Agustus 2025

MEDIA DIALOG NEWS, Jakarta – Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) mengecam keras tindakan brutal aparat kepolisian yang diduga melakukan penangkapan,

Hubungkan Jambi-Lampung, SIG Pasok Beton untuk Tol Pertama di Jambi

Hubungkan Jambi-Lampung, SIG Pasok Beton untuk Tol Pertama di Jambi

MEDIA DIALOG NEWS, Jambi - PT Semen Indonesia (SIG) telah memberikan kontribusi signifikan dalam pembangunan infrastruktur di Sumatera. Melalui anak

Desa Watukrus Gelar Festival 2024

Desa Watukrus Gelar Festival 2024

MEDIA DIALOG NEWS, Sikka NTT - Festival Watukrus 2024 yang digelar dari tanggal 18–20 desember 2024 telah usai. Event ini

Inergitas Forsa IKN dan Otorita IKN, Siapkan Investor Club untuk Mendorong Pertumbuhan Ibu Kota Nusantara

Inergitas Forsa IKN dan Otorita IKN, Siapkan Investor Club untuk Mendorong Pertumbuhan Ibu Kota Nusantara

MEDIA DIALOG NEWS - Ibu Kota Nusantara (IKN) merupakan proyek prestisius pemerintah Indonesia untuk menciptakan pusat pertumbuhan baru di luar

Setelah diberitakan, Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan Mengaku Salah Input Data di SiRUP LKPP, Masih Ada Penganggaran Ganda dan Berulang

Setelah diberitakan, Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan Mengaku Salah Input Data di SiRUP LKPP, Masih Ada Penganggaran Ganda dan Berulang

MEDIA DIALOG NEWS, Kisaran – Kesalahan input data pembayaran narasumber verifikasi dan analisis data Maternal Perinatal Death Notification (MPDN) serta

Ester Yulia Kecam Tindakan Aparat: Rumah Kebangsaan Baginda Desak Investigasi Tragedi Demonstrasi DPR RI

Ester Yulia Kecam Tindakan Aparat: Rumah Kebangsaan Baginda Desak Investigasi Tragedi Demonstrasi DPR RI

MEDIA DIALOG NEWS, Jakarta — Aksi penyampaian aspirasi masyarakat di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) berujung

Hendak Unjuk Rasa ke Kantor Desa Buntu Pane, Sejumlah Aktivis Dihadang dan Dihalau Warga di Tengah Jalan

Hendak Unjuk Rasa ke Kantor Desa Buntu Pane, Sejumlah Aktivis Dihadang dan Dihalau Warga di Tengah Jalan

MEDIA DIALOG NEWS, Buntu Pane – Sejumlah massa aksi yang menamakan dirinya DPP Pemuda dan Mahasiswa Aktivis Sumatera Utara (DPP

Bupati dan Wakil Bupati Asahan Terpilih Dilantik Presiden RI di Jakarta Tgl 6 Februari 2025 bersama 18 Kepala Daerah Lainnya di Sumut

Bupati dan Wakil Bupati Asahan Terpilih Dilantik Presiden RI di Jakarta Tgl 6 Februari 2025 bersama 18 Kepala Daerah Lainnya di Sumut

MEDIA DIALOG NEWS, Kisaran – Bupati dan Wakil Bupati Asahan Terpilih akan dilantik oleh Presiden RI pada tanggal 6 Februari

Kasus Dugaan Fitnah Pelecehan dan Kriminalisasi Hukum di Palopo Tuai Sorotan

Kasus Dugaan Fitnah Pelecehan dan Kriminalisasi Hukum di Palopo Tuai Sorotan

MEDIA DIALOG NEWS, Palopo – Warga Kota Palopo digemparkan dengan kasus dugaan penyebaran fitnah pelecehan yang berujung pada dugaan kriminalisasi

Pemerintah Desa Kilon Serahkan 164 Kelambu untuk Warga

Pemerintah Desa Kilon Serahkan 164 Kelambu untuk Warga

MEDIA DIALOG NEWS, Kepulauan Tanimbar - Pemerintah Desa Kilon, Kecamatan Wuarlaboar, mengadakan pengadaan 164 kelambu yang dibagikan merata ke tiap