MEDIA DIALOG NEWS – “Tanah bukan sekadar lahan, melainkan sumber hidup dan martabat.” Kalimat itu menjadi pegangan hidup Bincar Daniel Manurung, lahir di Mandoge, 16 Maret 1980, anak kelima dari enam bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana, namun sarat dengan nilai perjuangan.
Jejak Awal
Pagi di Simpang Kopas, matahari baru saja naik. Petani menenteng cangkul, sebagian menyiangi sawit muda, sebagian lagi menanam jagung di sela pohon. Di antara mereka, Bincar berdiri, menyapa satu per satu dengan senyum hangat. Baginya, tanah yang mereka pijak bukan sekadar hamparan hijau, melainkan simbol keberanian rakyat yang bertahan puluhan tahun menghadapi tekanan perusahaan.
Sejak kecil, benih keberanian sudah tertanam. Saat duduk di kelas 4 SD, ia menyaksikan orang tuanya berhadapan dengan HTI di Gontoing Silogomon pada 1990-an. Pengalaman itu menjadi panggilan hidup yang kelak membawanya ke jalan advokasi. Pendidikan ditempuh di SD Suka Makmur, SMP Negeri 1 BP Mandoge, dan SMA Negeri 3 Kisaran.

Masa SMA menjadi titik balik penting: ketika ngekost di markas NGO Sintesa – Kisaran, ia berkenalan dengan dunia advokasi. Malam-malam panjang di kamar kost sederhana diisi dengan diskusi dan bacaan. Buku-buku seperti Madilog, Sekolah adalah Candu, dan Dari Penjara ke Penjara atau Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire bukan sekadar bacaan, melainkan peta jalan perjuangan. Dari sana ia belajar bahwa perjuangan rakyat harus disertai kesadaran politik dan strategi yang matang.
Saat kuliah di Universitas Nomensen, Bincar aktif di Gerakan Mahasiswa dan Rakyat (GEMAR). Ia menemukan wadah untuk menghubungkan perjuangan mahasiswa dengan rakyat. Tahun 2001, ia terjun langsung mendampingi kasus penangkapan 136 petani di Silampuyang, Simalungun. Ia melihat bagaimana aparat menekan rakyat, namun juga bagaimana solidaritas membuat petani bertahan. “Saya masih ingat, kelas 4 SD, melihat orang tua berhadapan dengan HTI. Dari situlah saya tahu: keberanian lahir dari penderitaan,” kenangnya.
Basis Massa
Tahun 2004, ia bergabung dengan Serikat Petani Sumatera Utara (SPSU) sebagai ketua unit II, membawahi 12 OTL di Kabupaten Asahan. Masa itu menjadi periode penting karena FSPI (Federasi Serikat Petani Indonesia) masih berjuang membangun basis. Bincar ikut mengorganisir pendidikan hukum kritis, gender, dan lembaga keuangan petani.

Dari sinilah lahir koperasi-koperasi milik petani yang menjadi tulang punggung ekonomi SPI Asahan. Sejak 2006, ia menjadi volunteer FSPI wilayah Asahan. Tahun 2012–2020, ia dipercaya sebagai Ketua Divisi Polhukkam DPC SPI Asahan. Tahun 2025, hasil Muscab SPI Kabupaten Asahan menempatkannya sebagai Ketua DPC SPI di Kabupaten Asahan, membawahi 17 basis OTL.
Program kerjanya jelas: advokasi untuk terwujudnya reforma agraria dan pengembangan koperasi sebagai tulang punggung ekonomi petani. “Advokasi bukan pekerjaan, melainkan panggilan hati. Saya hanya meneruskan apa yang sudah ditanamkan orang tua,” ujarnya.
Bincar memperdalam ilmu advokasi melalui berbagai pelatihan. Ia mengikuti diklat Community Organizing di Pusdiklat Alam Tani Lobburoppah, pendidikan HAM bersama Komnas HAM dan SPI Medan, serta pendidikan politik di Sintesa SPI dan FISIP USU. Ia juga terlibat dalam investigasi pelanggaran HAM di Tuktuk Samosir bersama Kontras dan Imparsial.

Tahun 2024, ia mengikuti kursus ekonomi politik reforma agraria bersama La Via Campesina di Bogor. Semua pengalaman itu memperkaya perspektifnya, menjadikan advokasi bukan sekadar praktik, melainkan ilmu yang terus ia dalami.
Di balik kesibukan advokasi, Bincar adalah seorang ayah. Ia menikah dengan boru Hombing dan dikaruniai tiga anak: Refan (17 tahun), Jo Patrio (kelas 5 SD), dan Rindang Ayu (kelas 1 SD). Kehidupan keluarga menjadi sumber energi dan motivasi dalam perjuangannya. Motto hidupnya sederhana namun penuh makna: “Tetaplah berusaha, yang menentukan hasilnya adalah Yang Maha Kuasa.”
Hasil Perjuangan
Perjuangan Bincar bersama petani menghasilkan banyak capaian nyata. Di Simpang Kopas, 236,8 hektar berhasil dikelola koperasi dengan 50 KK, meski berkonflik dengan PT. Jaya Baru. Di Rawa Sari, Pulo Rakyat, 1000 hektar dikuasai 200 KK selama 15 tahun. Di Kampung Gajah, 300 hektar menjadi arena konflik kehutanan, sawit, dan karet. Di Sei Kopas, 70 hektar dikelola 56 KK selama tiga tahun.
Di Bukit Kijang, 150 hektar menjadi pemukiman dan kebun sawit. Di Pardembanan, Sei Kopas, 200 hektar berkonflik dengan PT. Jaya Baru. Setiap basis adalah cerita panjang tentang keberanian rakyat melawan monopoli tanah. “Tanah yang dirampas harus kembali kepada rakyat. Itu bukan sekadar hukum, tapi keadilan,” tegasnya.
Bincar Daniel Manurung bukan sekadar aktivis. Ia adalah saksi hidup dari perjuangan panjang petani melawan monopoli tanah. Dari Mandoge hingga Asahan, dari ruang kuliah hingga basis perjuangan, ia menjadikan hidupnya sebagai ladang pengabdian. “Petani yang tertindas mengajarkan saya arti ketabahan. Dari mereka saya belajar bahwa hidup adalah perjuangan.” (Edi Prayitno)
Pengumuman
Dialog Berita bersama Media Dialog News saat ini tengah melakukan pencarian 100 figur tokoh Kabupaten Asahan untuk ditulis riwayat hidup singkat serta perannya di berbagai bidang.
Tokoh-tokoh tersebut akan dipilih berdasarkan kiprah, kontribusi, dan keteladanan yang layak dijadikan panutan bagi masyarakat. Bidang yang dimaksud mencakup pemerintahan, pendidikan, kesehatan, jurnalistik, olahraga, agama, hukum, politik, budaya, ekonomi, sosial, hingga gerakan masyarakat sipil.
Kami mengundang partisipasi pembaca untuk mengusulkan nama tokoh yang dianggap layak masuk dalam daftar ini. Usulan dapat dikirimkan ke redaksi dengan format:
- Nama Tokoh : ——————————
- Nomor Ponsel Tokoh : ——————
- Bidang Kiprah : —————————
- Alasan singkat mengapa tokoh tersebut layak dijadikan panutan : ————
Kirimkan usulan melalui email: edi_batakpos@yahoo.com atau WhatsApp: 0889-9737-2905
Hasil pencarian ini akan dipublikasikan secara bertahap dalam bentuk tulisan feature, sehingga masyarakat dapat mengenal lebih dekat figur-figur inspiratif dari Asahan. Pada akhirnya, 25 tokoh terpilih akan diseleksi kembali untuk diterbitkan menjadi sebuah buku.
(Redaksi Dialog Berita & Media Dialog News)

