Oleh : Edi Prayitno

MEDIA DIALOG NEWS – Profil adalah jenis tulisan yang berfokus pada seseorang dengan tujuan menghadirkan gambaran utuh tentang dirinya. Berbeda dengan berita yang ringkas, profil lebih panjang, detail, dan sering menggunakan gaya naratif. Ia bukan sekadar daftar data biografis, melainkan cerita tentang perjalanan hidup, nilai, dan kontribusi seseorang.
Dalam kajian jurnalistik Indonesia, profil dipandang sebagai bagian dari feature writing atau “karangan khas” yang menonjolkan sisi manusiawi tokoh. Beberapa ahli lain, seperti Adinegoro dan Djen Amar, menekankan bahwa jurnalistik harus menghadirkan fakta sekaligus interpretasi yang bisa dipertanggungjawabkan.
Profil yang baik memadukan fakta biografis (lahir, pendidikan, pekerjaan, keluarga) dengan narasi pengalaman dan sisi manusiawi (kelebihan, kelemahan, bahkan kontroversi). Dengan begitu, pembaca tidak hanya mengenal tokoh sebagai sosok ideal, tetapi juga sebagai manusia nyata dengan kompleksitas hidupnya.
Menurut Roland E. Wolseley, pakar jurnalistik, “Feature writing, termasuk profil, harus menyajikan fakta dengan cara yang menarik, tetapi tetap berimbang. Ia tidak boleh jatuh menjadi sekadar pujian, melainkan harus memberi pembaca pemahaman yang lebih dalam tentang tokoh.”
Hal senada ditegaskan oleh Onong Uchjana Effendi, ahli komunikasi Indonesia, yang menyatakan bahwa “Tulisan jurnalistik harus berfungsi sebagai informasi yang lengkap, akurat, dan berimbang. Profil yang baik bukan hanya mengangkat kelebihan, tetapi juga menampilkan sisi manusiawi tokoh.”
Dengan demikian, profil yang baik memadukan fakta biografis (lahir, pendidikan, pekerjaan, keluarga) dengan narasi pengalaman dan sisi manusiawi (kelebihan, kelemahan, bahkan kontroversi). Dengan begitu, pembaca tidak hanya mengenal tokoh sebagai sosok ideal, tetapi juga sebagai manusia nyata dengan kompleksitas hidupnya.
Unsur Penting dalam Profil
- Data faktual: latar belakang, pendidikan, pekerjaan, keluarga.
- Narasi perjalanan: perkembangan karakter, tantangan, titik balik hidup.
- Kontribusi sosial/profesional: kiprah nyata dalam masyarakat atau bidang tertentu.
- Sisi kritis/manusiawi: kelemahan, kontroversi, atau keterbatasan.
- Kutipan langsung: menghadirkan suara tokoh sendiri agar tulisan autentik.
Profil vs Panegirik/Hagiografi
Sering kali, tulisan yang disebut “profil” justru lebih menyerupai panegirik (tulisan pujian) atau feature hagiografis (kisah yang menyanjung tokoh).
- Panegirik/hagiografi:
- Hampir seluruh paragraf berisi pujian, penguatan karakter positif, dan glorifikasi: keteguhan, konsistensi, keberanian, kerendahan hati.
- Minim data faktual: tidak ada detail biografi seperti usia, pendidikan, pekerjaan formal, atau keluarga.
- Minim sisi kritis: tidak menampilkan kelemahan, kontroversi, atau tantangan personal yang memperlihatkan kompleksitas manusia.
- Tujuan utamanya adalah membangun citra, bukan memberi gambaran utuh.
- Profil sejati:
- Menyajikan fakta biografis dan kronologi perjalanan hidup.
- Menampilkan sisi positif dan negatif.
- Memberi ruang bagi pembaca untuk melihat tokoh secara realistis.
- Tujuannya adalah menghadirkan sosok manusia secara utuh, bukan sekadar mengangkat citra.
Kesimpulan
Profil adalah tulisan yang berimbang, memadukan fakta, narasi, dan refleksi untuk menghadirkan sosok manusia secara utuh. Ia bukan sekadar kumpulan pujian, melainkan jendela yang membuka perjalanan hidup seseorang dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jika sebuah tulisan hanya berisi glorifikasi tanpa data faktual dan tanpa sisi kritis, maka ia lebih tepat disebut panegirik atau feature hagiografis, bukan profil.
Lebih jauh, profil memiliki fungsi ganda: sebagai rekam jejak dan sebagai cermin sosial. Sebagai rekam jejak, profil mendokumentasikan perjalanan hidup tokoh dengan detail yang bisa dipertanggungjawabkan. Sebagai cermin sosial, profil memberi pembaca kesempatan untuk belajar dari pengalaman tokoh, baik dari keberhasilan maupun dari kegagalannya. Dengan demikian, profil bukan hanya tentang individu, tetapi juga tentang nilai-nilai yang relevan bagi masyarakat luas.
Profil yang baik juga menuntut kejujuran penulis. Penulis harus berani menampilkan sisi kritis, bahkan kelemahan tokoh, tanpa kehilangan rasa hormat. Justru di situlah letak kekuatan profil: ia menghadirkan tokoh sebagai manusia nyata, bukan figur sempurna yang tak tersentuh. Pembaca akan lebih terhubung dengan kisah yang jujur, karena mereka melihat refleksi diri dalam perjuangan, keterbatasan, dan kerentanan tokoh.
Selain itu, profil berperan sebagai alat edukasi. Ia mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki perjalanan unik, dan bahwa keberhasilan tidak pernah datang tanpa tantangan. Dengan menampilkan kompleksitas tokoh, profil membantu pembaca memahami bahwa kepemimpinan, aktivisme, atau pencapaian besar selalu lahir dari proses panjang yang penuh dinamika.
Akhirnya, profil adalah genre yang menuntut keseimbangan antara fakta dan narasi. Fakta memberi dasar yang kokoh, sementara narasi memberi daya tarik emosional. Tanpa fakta, profil kehilangan kredibilitas; tanpa narasi, ia kehilangan daya hidup. Oleh karena itu, penulis profil harus mampu meramu keduanya agar menghasilkan tulisan yang informatif sekaligus inspiratif.
Daftar Pustaka
- Dasar-Dasar Jurnalistik. Jakarta: Gunung Agung, 1984.
- Amar, Djen. Jurnalistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali, 1986.
- Effendi, Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003.
- Wolseley, Roland E. Journalism Today. New York: Random House, 1975.

