MEDIA DIALOG NEWS, Lebak – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 1 Cigemblong, Kabupaten Lebak, Banten kembali menjadi sorotan publik setelah menu konsumsi siswa yang dibagikan berisi telur dan jagung dalam keadaan mentah. Temuan ini memicu kritik dari guru, orang tua, serta warga setelah video kejadian tersebut viral di media sosial.
Insiden terjadi pada Jumat (23/1), ketika seorang guru membuka paket MBG berisi telur utuh yang belum dimasak dan jagung mentah. Video itu kemudian ramai diperbincangkan netizen karena dinilai tidak layak konsumsi.
“Makanan MBG di SMA 1 Cigemblong kondisinya tidak layak. Telurnya masih mentah, jagungnya juga mentah. Masa siswa harus memasak sendiri? Di sekolah dari mana kompor untuk memasak?” ujar seorang guru dalam video viral.
Konfirmasi Pihak Sekolah
Wakil Kepala Sekolah, Pepi Habibi, membenarkan kejadian tersebut. Dari total 227 siswa penerima MBG, sekitar 100 porsi bermasalah karena berisi bahan mentah. Ia menambahkan bahwa kasus serupa pernah terjadi sebelumnya, termasuk temuan belatung pada sayuran dan buah melon yang sudah berlendir.
“Pertama ditemukan belatung pada sayuran, kedua buah melon yang dibagikan sudah berlendir, ketiga telur mentah. Ini berulang,” ujar Pepi kepada sejumlah wartawan.
Klarifikasi Penyelenggara
Pihak penyelenggara MBG melalui SPPG Yayasan Amanah Permas Agung memberikan klarifikasi. Kepala SPPG, Rasudin, menyatakan bahwa temuan bahan mentah bukan unsur kesengajaan, melainkan akibat kelalaian dalam proses kerja di dapur.
“Ini bukan unsur kesengajaan, melainkan kelalaian dalam proses kerja. Setiap tahapan harus dicek berulang kali. Kalau semua dijalankan sesuai prosedur, kejadian seperti ini bisa dihindari,” jelas Rasudin saat dikonfirmasi.
Reaksi Publik
Sejak video viral di Instagram dan WhatsApp, banyak warga, guru, dan orang tua murid mempertanyakan sistem pengawasan, SOP, hingga standar keamanan pangan dalam program MBG. Netizen menilai kondisi itu membahayakan kesehatan siswa dan menolak anggapan bahwa siswa harus memasak sendiri di sekolah yang tidak memiliki fasilitas memasak.
Kritik ini menambah sorotan terhadap pelaksanaan MBG di beberapa daerah. Sebelumnya, program ini juga dikaitkan dengan temuan makanan busuk dan komponen yang tidak layak konsumsi. Orang tua dan sejumlah pihak kini menuntut evaluasi menyeluruh terhadap implementasi MBG, mulai dari SOP distribusi makanan, pengawasan petugas dapur, hingga kualitas bahan pangan yang dikirimkan ke sekolah. (Rep)

