MEDIA DIALOG NEWS, Jakarta – Antrean panjang di SPBU Pertamina saat pengisian BBM, baik Pertalite maupun Pertamax, sudah menjadi pemandangan biasa. Di antara deretan kendaraan bermotor, sesekali terlihat motor sport lawas: Suzuki Thunder.
Meski produksinya telah dihentikan sejak 2015, motor ini masih menjadi buruan kolektor, terutama para pemilik warung kelontong, tambal ban, dan pedagang eceran bensin. Alasannya sederhana: kapasitas tangki bensin Suzuki Thunder mencapai 14,5 liter, jauh lebih besar dibanding motor bebek atau matic pada umumnya.
Dengan mesin 125cc dan kecepatan yang cukup tangguh di kelasnya, Suzuki Thunder pernah populer sebagai motor sport entry-level. Namun tren pasar bergeser ke motor matic yang lebih praktis, sehingga produksinya resmi dihentikan. Kendati demikian, di pasar internasional motor ini masih eksis, misalnya di Pakistan dengan varian Suzuki GR150.
Sebagian orang menyebut Suzuki Thunder sebagai “musuh SPBU” karena tangkinya yang rakus. Namun bagi pedagang bensin eceran, justru itulah keunggulannya: sekali isi penuh, bisa dipakai untuk stok jualan lebih lama.
Harga bekas Suzuki Thunder di pasaran kini bervariasi, mulai dari Rp3 juta hingga Rp10 juta, tergantung tahun produksi, kondisi, dan kelengkapan. Selain Thunder, ada juga pedagang yang menggunakan motor Pulsar untuk kebutuhan serupa.
Seiring waktu, SPBU mulai memperketat penyaluran BBM bersubsidi dengan sistem barcode, guna mencegah penyalahgunaan. Meski begitu, Suzuki Thunder tetap dikenang sebagai motor legendaris yang memberi keuntungan tersendiri bagi pelaku usaha kecil.
Popularitas Suzuki Thunder di kalangan pedagang bensin eceran juga tidak lepas dari reputasinya sebagai motor yang tangguh dan mudah dirawat. Suku cadang yang relatif murah dan masih tersedia di pasaran membuat motor ini tetap diminati, meskipun usianya sudah lebih dari satu dekade.
Selain itu, Suzuki Thunder juga memiliki nilai nostalgia bagi sebagian penggemar motor sport. Banyak komunitas motor lawas yang masih mengadakan pertemuan dan touring menggunakan Thunder, menjadikannya bukan sekadar alat transportasi, tetapi juga simbol kebersamaan dan kenangan masa lalu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa meski tren otomotif terus berubah, ada model-model tertentu yang tetap bertahan karena fungsionalitas dan ikatan emosional dengan penggunanya. Suzuki Thunder adalah salah satu contoh nyata bagaimana sebuah motor bisa melampaui sekadar kendaraan, menjadi bagian dari gaya hidup dan strategi usaha masyarakat kecil. (Nanang-Jkt)

