Media Dialog News

Rosmansyah: Kiprah, Keluarga, dan Visi Ekonomi Hijau untuk Masa Depan Asahan

MEDIA DIALOG NEWS – Rosmansyah lahir di Kisaran tahun 1977 dari keluarga sederhana dengan empat bersaudara. Ayahnya bekerja sbg PNS Guru Agama Islam dan ibunya adalah guru SD, namun kesejahteraan guru pada masa itu masih jauh dari layak. “Aku pernah makan beras catu, tinggal di rumah dinas guru yang hanya memiliki dua kamar di Kelurahan Mutiara, Jalan Husni Thamrin,” kenangnya.

Masa kecilnya juga diwarnai suasana khas Kisaran era 1980-an. Ia pernah tinggal di Jalan Cokro Aminoto, Gang Pendidikan (Sabas), yang berbatas langsung dengan Sidorejo dan rel kereta api. Setiap pagi ia berjalan kaki menuju sekolah di kawasan Mutiara, baik saat SD maupun SMP. Lingkungan sederhana itu membentuk kebiasaan disiplin dan keteguhan hati sejak dini.

Ia bersekolah di SD 013855, sementara ibunya mengajar di SD 013856. Ibunya sengaja tidak memasukkannya ke sekolah tempat ia mengajar agar Rosmansyah tidak manja dan tetap fokus belajar. Sejak SD hingga SMA Negeri 1 Kisaran, ia selalu menempati peringkat pertama. Prestasi akademik itu mengantarkannya masuk ke IPB tanpa tes, memilih program studi Teknologi Industri Pertanian.

Masa sekolah penuh kenangan. Ia pernah ditampar gurunya, J. Hutasoit, ayah dari Jansen Hutasoit yang kini menjadi rekannya di PDIP. “Sakitnya setengah mati, tapi aku tidak melawan. Murid masa itu biasa diberi hukuman fisik. Aku tidak dendam, justru bersyukur karena guru-guruku hebat, mendisiplinkan, dan membuatku berani melanjutkan pendidikan meski dengan keterbatasan biaya,” ujarnya.

Selain berprestasi, Rosmansyah aktif berorganisasi: OSIS, Palang Merah Remaja, hingga pengajian An-Nahlu. Ia selalu dipercaya mengurus pendanaan kegiatan, membuat proposal lalu mengedarkannya, untuk mencari biaya organisasi.

Jejak di Kampus dan Awal Karier

Tahun 1996 menjadi titik penting dalam hidup Rosmansyah. Ia diterima di dua kampus ternama, IPB dan UGM, melalui jalur PMDK. Namun atas saran orang tua, ia memilih IPB. Perjalanan pertamanya ke Bogor bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan batin. Bersama sang ayah, ia menempuh dua hari dua malam dengan bus ekonomi ALS. Kursi keras, udara panas bercampur bau solar, dan hentakan jalan lintas Sumatera menjadi saksi tekad seorang anak guru dari Kisaran yang hendak menuntut ilmu di kota hujan.

Di Bogor, dunia kampus membuka cakrawala baru. Rosmansyah tidak hanya sibuk dengan kuliah di Jurusan Teknologi Pertanian Fak.Teknologi Pertanian IPB, tetapi juga larut dalam dinamika organisasi. Ia aktif sebagai anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa, menjadi Pemimpin Umum/ Pemimpin Redaksi Pers Mahasiswa Gema Almamater IPB, dan bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Aktivitas itu membuatnya dikenal sebagai mahasiswa yang vokal, kritis, sekaligus organisatoris. Ia belajar bahwa kepemimpinan bukan sekadar mengatur, melainkan mendengar, menulis, dan menyuarakan aspirasi.

Rosmansyah bilang Senior di Gema Almamater banyak yang jadi, diantaranya  Uni Zulfiani Lubis (IDN Times/ Panji Masyarakat), Suryo Pratomo (Pemred Kompas/ Pemred Metro TV/ Dubes RI di Singapura), Teguh Juwarno (DPR RI/ RCTI), Yosep Suprayogi (Tempo).

Namun konsekuensinya jelas: kuliahnya molor setahun. Ia tamat dalam lima tahun, sementara teman-temannya empat tahun. “Itu harga yang harus dibayar,” begitu ia sering berkata. Baginya, pengalaman berorganisasi adalah investasi jangka panjang yang kelak lebih berharga daripada sekadar ijazah tepat waktu.

Setelah lulus, ia bekerja dua tahun di sebuah perusahaan swasta di Tangerang sebagai Asisten Manajer Perencanaan Produksi. Dunia industri memberinya pengalaman baru: disiplin waktu, target produksi, dan manajemen modern. Tetapi di balik rutinitas itu, ia merasa ada panggilan lain—panggilan untuk kembali ke tanah kelahirannya.

Kebetulan, kosnya berseberangan dengan rumah Bungaran Saragih, Menteri Pertanian saat itu. Pertemuan dan obrolan singkat dengan Bungaran menjadi titik balik. Bungaran menyarankan agar Rosmansyah pulang ke Asahan untuk membangun daerah. Nasihat itu menancap kuat di benaknya. Selain Bungaran Saragih, Rosmansyah dengan aktivitas Kemahasiswaan nya dekat dengan Prof Rokhmin Dahuri saat beliau menjadi Pembantu Rektor IPB, yang juga menyarankan untuk membangun Kampung. Rokhmin lah yang kemudian menjadi mentor Rosmansyah sampai saat ini di PDI Perjuangan.

Tahun 2005, Rosmansyah akhirnya kembali ke Kisaran. Saat itu Pilkada Asahan sedang berlangsung. Ia bergabung di posko pemenangan Panusunan Siregar. Suasana politik lokal yang penuh semangat, hiruk pikuk kampanye, dan interaksi langsung dengan masyarakat membuatnya merasakan denyut politik dari dekat. Dari sanalah ia mulai tertarik masuk politik—bukan sekadar sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku yang ingin memberi arah bagi pembangunan daerahnya.

Meniti Karier Politik

Kepulangan Rosmansyah ke Kisaran tahun 2005 menjadi babak baru dalam hidupnya. Saat itu Pilkada Asahan sedang bergulir, hiruk pikuk kampanye terasa di setiap sudut kota. Spanduk berjejer di jalan, posko pemenangan ramai oleh relawan, dan suara pengeras kampanye memecah udara. Di tengah atmosfer politik yang penuh semangat itu, Rosmansyah bergabung di posko pemenangan Panusunan Siregar. Dari sana, ia merasakan denyut politik lokal secara langsung—politik yang bukan hanya soal kursi, melainkan soal kedekatan dengan rakyat.

Atas rekomendasi Bungaran Saragih, ia masuk PDIP. Kepercayaan datang begitu cepat: ia langsung dipercaya sebagai Wakil Sekretaris DPC PDIP Asahan, lalu dipindahkan menjadi Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga. Bagi Rosmansyah, ini bukan sekadar jabatan, melainkan ruang belajar baru. Ia belajar mengelola organisasi politik, membangun jaringan, dan memahami dinamika partai dari dalam.

Namun kiprahnya tidak berhenti di politik. Ia juga aktif di dunia pendidikan dan kehutanan. Pernah menjadi Pembantu Direktur Bidang Kemahasiswaan di ITELKOM Globalindo, lalu turun langsung ke lapangan sebagai penyuluh kehutanan di Sungai Kepayang bersama Zainal Siagian. Selama tiga tahun (2007–2009), ia berinteraksi dengan masyarakat desa, mengajarkan pentingnya menjaga hutan, dan merasakan betapa erat hubungan antara lingkungan dan kehidupan rakyat kecil.

Tahun 2009, ia mengambil keputusan besar: berhenti sebagai penyuluh kehutanan untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Asahan. Keputusan itu sempat ditentang orang tuanya karena berarti meninggalkan pekerjaan tetap. Namun dengan modal nekad dan keyakinan, ia maju. Hasilnya, ia kalah tipis—hanya 50 suara dari Jhoner Sinaga. Kekalahan itu bukan akhir, melainkan pelajaran berharga tentang kerasnya kontestasi politik.

Takdir kemudian berbalik. Dua tahun kemudian Jhoner wafat, dan Rosmansyah masuk DPRD melalui PAW (2012). Dari titik itu, karier politiknya terus menanjak. Tahun 2014 ia kembali terpilih, lalu 2019 kembali menang. Tahun 2020 ia memberanikan diri maju sebagai calon Bupati Asahan. Meski belum berhasil, langkah itu menunjukkan keberanian dan tekadnya untuk membawa gagasan besar ke panggung eksekutif.

Ia tidak berhenti. Justru setelah itu, ia kembali fokus membangun partai dan konsolidasi. Tahun 2024, ia kembali terpilih sebagai anggota DPRD dan kini menjabat Wakil Ketua DPRD Asahan. Bagi Rosmansyah, setiap tahap adalah proses. Kursi legislatif bukan tujuan akhir, melainkan pijakan untuk meninggalkan jejak gagasan besar yang bisa mengubah arah pembangunan Asahan.

Gagasan Besar: Ekonomi Hijau dan Fiskal Daerah

Di ruang sidang DPRD Asahan, Rosmansyah bukan sekadar duduk sebagai legislator. Ia hadir dengan gagasan yang melampaui rutinitas politik sehari-hari. Salah satu ide besarnya adalah mendorong lahirnya Rancangan Perda Ekonomi Hijau—sebuah konsep yang ia yakini mampu menjawab dua tantangan sekaligus: krisis lingkungan dan keterbatasan fiskal daerah.

Baginya, ekonomi hijau bukan jargon. Ia melihat peluang nyata dari perdagangan karbon, insentif lingkungan, dan ekonomi sirkular. “Jika hutan kita disertifikasi, maka akan dihitung berapa oksigen yang dihasilkan dibandingkan dengan karbon, metana, dan gas pencemar lain. Selisih dari perhitungan itu akan menjadi dasar pemberian insentif dari negara donor,” jelasnya dengan penuh keyakinan.

Ekstensifikasi Fiskal dan Insentif Lingkungan

Rosmansyah menekankan bahwa salah satu fokus utamanya adalah mencari sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pendekatan ekstensifikasi. Maksudnya, menciptakan objek PAD baru berbasis lingkungan dan keberlanjutan. Ia merujuk pada komitmen global seperti Protokol Kyoto dan Paris Agreement, di mana negara-negara penghasil emisi besar harus membayar kompensasi, sementara negara yang mampu menurunkan pencemaran berhak mendapat insentif.

Kabupaten Asahan termasuk salah satu daerah yang melirik peluang ini melalui Ranperda Ekonomi Hijau. Dengan sertifikasi hutan dan pengelolaan lingkungan yang baik, Asahan bisa memperoleh insentif dari negara donor, yang kemudian dibagi secara agregat oleh pemerintah pusat berdasarkan luas hutan di kabupaten/kota.

Ekonomi Sirkular dan Bank Sampah

Selain perdagangan karbon, Rosmansyah menekankan pentingnya ekonomi sirkular. Sampah plastik bisa didaur ulang, limbah diolah menjadi biomassa untuk pembangkit listrik, bahkan diproses menjadi bahan bakar alternatif. Ia berpendapat bahwa Perda Ekonomi Hijau harus mencakup pengelolaan limbah berbasis komunitas: di hulu sampah dicegah melalui bank-bank sampah, di hilir sampah yang sudah disortir diolah untuk kepentingan ekonomi sirkular. “Sampah bukan lagi beban, melainkan aset. Jika dikelola dengan baik, ia bisa menjadi sumber PAD hijau yang berkelanjutan,” tegasnya.

Energi Terbarukan dan Lampu Jalan Surya

Gagasannya tentang energi terbarukan pun konkret. Ia mengusulkan konversi lampu jalan ke tenaga surya. “Kabupaten Asahan ini mengeluarkan Rp19 miliar setiap tahun untuk lampu jalan. Jika diganti tenaga surya, anggaran itu bisa dialihkan untuk pembangunan rakyat. Selain hemat, penggunaan energi fosil berkurang, dan dari pengurangan emisi itu Asahan akan mendapat insentif lagi,” ujarnya.

Rosmansyah sudah berkomunikasi dengan staf khusus Menteri ESDM agar Kabupaten Asahan bisa mendapatkan lampu jalan tenaga surya. Baginya, angka Rp19 miliar bukan sekadar statistik, melainkan simbol bahwa kebijakan hijau bisa langsung berdampak pada kesejahteraan rakyat.

Dukungan Dana Lingkungan dan Fiskal Asahan

Naskah akademik tentang ekonomi hijau telah ia susun dan bagikan kepada rekan-rekan DPRD. Ia menekankan bahwa pembiayaan ekonomi sirkular melalui bank-bank sampah bisa didukung oleh dana non-APBN yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) di bawah Kementerian Keuangan. Dana dari negara donor masuk ke BPDLH, lalu disalurkan untuk aksi pengelolaan lingkungan, termasuk ekonomi sirkular dan energi terbarukan.

Selain itu, ia juga berkomunikasi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Setiap ekspor CPO dikenakan potongan 14%: 7% untuk cukai, 7% masuk ke BPDP. Dana itu digunakan untuk peremajaan kebun rakyat (PSR) dan penguatan perkebunan. Rosmansyah berpendapat dana tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur, CSR perkebunan, dan pengembangan UMKM sektor perkebunan.

Dari kajian akademiknya, Rosmansyah tahu persis kondisi fiskal Asahan. Dalam 10 tahun terakhir, PDRB Asahan naik signifikan, pada 2024 tercatat Rp57 triliun. Namun PAD stagnan di angka 9–10 persen dari APBD, bahkan sporadis, tidak pernah melampaui 10 persen. Rasio kapasitas fiskal hanya 0,32%, termasuk kategori sangat rendah.

Karena itu, ia mengajak pemerintah daerah, lintas partai di DPRD, dan semua pemangku kepentingan untuk bersama-sama menyehatkan kapasitas fiskal Asahan. Pemerintah pusat saat ini mendorong konsep manajemen kolaboratif: pembiayaan pembangunan tidak boleh hanya bergantung pada APBN/APBD, tetapi juga bisa melalui kementerian, BUMN, maupun sumber pendanaan lain.

Jejaring dan Komitmen

Rosmansyah kini sedang menempuh S2 (MM) Magister Managemen SDM yang kedua di Jakarta, sedangkan S2 yang pertama diselesaikannya di Universitas Darma Agung dalam bidang Ilmu Pemerintahan, Ia mengambil kajian fiskal. “Tesisku membahas strategi pengelolaan fiskal daerah,” uajrnya dan ia memahami betul tentang kondisi Asahan. Kuliah di Jakarta setiap akhir pekan memberinya kesempatan menjalin komunikasi dengan teman-teman di kementerian, BUMN, dan DPR RI. Apalagi banyak adik kelas dan senior dari IPB, almamaternya, yang kini memiliki akses di pemerintahan. Ia juga aktif sebagai pengurus pusat Perhimpunan Alumni IPB. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim di DPP Himpunan Alumni IPB

Jejaring ini ia bangun bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk memperkuat pembangunan di Asahan. Konsep yang ia dorong adalah bergotong royong mencari sumber pendanaan pembangunan dari berbagai arah, asalkan ada regulasi dan tata kelola yang jelas. “Kalau kita hanya tidur nyenyak, berharap dari dana bagi hasil pemerintah pusat, maka Kabupaten Asahan tidak akan pernah terbangun,” tegasnya.

Kehidupan Pribadi dan Keluarga

Rosmansyah menikah tahun 2013. Istrinya kini juga duduk sebagai anggota DPRD Asahan. Awalnya ia didaftarkan untuk memenuhi kuota 30% caleg perempuan sesuai ketentuan UU Pemilu. Namun berkat kerja keras dan bimbingan Rosmansyah, istrinya mampu melakukan sosialisasi politik secara mandiri.

Pada Pemilu 2024, istrinya meraih 7.800 suara, tertinggi di Kabupaten Asahan. Prestasi ini bukan hanya kemenangan pribadi, tetapi juga kemenangan partai, karena PDIP berhasil menambah kursi menjadi delapan. Kini istrinya menjabat sebagai Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak di DPC PDIP Asahan, serta aktif di pembentukan Perda. Tahun ini, partai menugaskannya di bidang Reformasi Birokrasi, sebuah posisi strategis yang menunjukkan kepercayaan besar terhadap kapasitasnya.

Bagi Rosmansyah, keberhasilan istrinya adalah bukti bahwa politik bisa menjadi ruang pengabdian keluarga. “Sebagai suami, aku membimbingnya di awal. Setelah itu, dia mampu berdiri sendiri dan bahkan meraih suara tertinggi. Itu kebanggaan tersendiri, karena politik bukan hanya tentang aku, tapi juga tentang keluarga yang ikut berjuang,” ujarnya.

Keterlibatan istrinya dalam politik juga menjadi cerminan bahwa perjuangan Rosmansyah tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia berhasil menularkan semangat pengabdian kepada pasangan hidupnya, sehingga keduanya kini sama-sama berkontribusi dalam membentuk kebijakan daerah. Kehadiran istrinya di DPRD memperkuat posisi PDIP Asahan, sekaligus memperluas ruang representasi perempuan dalam politik lokal.

Sebagai suami, Rosmansyah sukses membimbing istrinya menjadi legislator. Sebagai ayah, ia mendidik dua puteranya bersama istri tercinta dengan nilai-nilai disiplin, kerja keras, dan pengabdian. Ia percaya bahwa keluarga adalah fondasi utama dalam perjuangan politik. “Kalau keluarga kuat, maka perjuangan politik juga akan kuat. Karena pada akhirnya, semua yang kita lakukan adalah untuk masa depan anak-anak dan masyarakat,” katanya.

Sebagai politisi, Rosmansyah berkomitmen menjadikan PDIP Asahan sebagai partainya wong cilik. Baginya, keberhasilan pribadi dan keluarga adalah bagian dari perjuangan kolektif untuk membangun daerah. Dengan dukungan istrinya yang kini juga menjadi legislator, ia semakin yakin bahwa politik bisa menjadi jalan pengabdian bersama, bukan sekadar ambisi individu. Bagi Rosmansyah, keluarga bukan hanya tempat bernaung, tetapi juga ruang pengabdian yang melahirkan kekuatan politik baru.

Refleksi dan Harapan

Prestasi Rosmansyah sebagai Ketua DPC PDIP Asahan mendapat apresiasi dari DPP PDIP pada Rakernas. Desember 2025 ia kembali terpilih sebagai Ketua DPC PDIP Asahan hingga 2030, sebuah amanah besar yang menuntut konsistensi, kerja keras, dan keberanian untuk terus berpihak pada rakyat kecil.

Dari perjalanan hidupnya, benang merah yang bisa ditarik adalah motivasi bagi generasi muda: kursi legislatif bukan tujuan, melainkan hasil dari perjuangan panjang dan kedekatan dengan rakyat. Ia menegaskan bahwa politik sejati lahir dari pengabdian, bukan dari ambisi pribadi.

“Saya ingin generasi muda Asahan tahu, politik bukan sekadar perebutan kursi. Politik adalah jalan pengabdian. Jangan takut memulai dari bawah, dari rakyat kecil, dari organisasi sederhana. Karena kedekatan dengan wong cilik itulah yang akan menguatkan langkah kita. Kursi legislatif hanyalah hasil, bukan tujuan. Tujuan sejati adalah bagaimana kita bisa memberi manfaat, membangun daerah, dan menyejahterakan rakyat dengan ketulusan hati.”

Bagi Rosmansyah, politik adalah ruang belajar yang tak pernah selesai. Ia percaya bahwa setiap kebijakan harus berakar pada kebutuhan rakyat, bukan sekadar angka-angka di atas kertas. Harapannya sederhana namun mendalam: agar generasi muda berani tampil, berani berjuang, dan tidak takut menghadapi keterbatasan.

Ia juga menekankan pentingnya politik keluarga sebagai fondasi. Keberhasilan istrinya menjadi legislator dengan suara tertinggi di Asahan adalah bukti bahwa pengabdian bisa tumbuh dari rumah, lalu menjalar ke masyarakat. “Kalau keluarga kuat, maka perjuangan politik juga akan kuat. Karena pada akhirnya, semua yang kita lakukan adalah untuk masa depan anak-anak dan masyarakat,” ujarnya.

Dengan semangat itu, Rosmansyah ingin menjadikan PDIP Asahan sebagai partai wong cilik yang benar-benar hadir di tengah rakyat. Ia percaya bahwa masa depan politik Asahan akan ditentukan oleh keberanian generasi muda untuk melanjutkan estafet perjuangan,dengan ketulusan, kerja keras, dan keberpihakan pada rakyat kecil.  Rosmansyah percaya, politik yang berpihak pada wong cilik akan selalu menemukan jalannya, karena sejatinya rakyatlah sumber kekuatan sejati. (Edi Prayitno)

Pengumuman

Dialog Berita bersama Media Dialog News saat ini tengah melakukan pencarian 100 figur tokoh Kabupaten Asahan untuk ditulis riwayat hidup singkat serta perannya di berbagai bidang.

Tokoh-tokoh tersebut akan dipilih berdasarkan kiprah, kontribusi, dan keteladanan yang layak dijadikan panutan bagi masyarakat. Bidang yang dimaksud mencakup pemerintahan, pendidikan, kesehatan, jurnalistik, olahraga, agama, hukum, politik, budaya, ekonomi, sosial, hingga gerakan masyarakat sipil.

Kami mengundang partisipasi pembaca untuk mengusulkan nama tokoh yang dianggap layak masuk dalam daftar ini. Usulan dapat dikirimkan ke redaksi dengan format:

  • Nama Tokoh : ——————————
  • Nomor Ponsel Tokoh : ——————
  • Bidang Kiprah : —————————
  • Alasan singkat mengapa tokoh tersebut layak dijadikan panutan : ————

Kirimkan usulan melalui email: edi_batakpos@yahoo.com atau WhatsApp: 0889-9737-2905

Hasil pencarian ini akan dipublikasikan secara bertahap dalam bentuk tulisan feature, sehingga masyarakat dapat mengenal lebih dekat figur-figur inspiratif dari Asahan. Pada akhirnya, 25 tokoh terpilih akan diseleksi kembali untuk diterbitkan menjadi sebuah buku.

(Redaksi Dialog Berita & Media Dialog News)

Berita Terbaru

Video Terbaru

Placement tidak ditentukan.

Berita Lainnya

TERBARU: Respon Petinggi Polri Soal Dugaan Kriminalisasi Ibu Rina

TERBARU: Respon Petinggi Polri Soal Dugaan Kriminalisasi Ibu Rina

MEDIA DIALOG NEWS, Jakarta – Dukungan dari jajaran petinggi Polri mulai bermunculan terkait kasus dugaan kriminalisasi terhadap Ibu Rina Rismala

Warga Asahan Jadi Korban Isi BBM di SPBU 1421107 P.Siantar yang Tercampur Air

Warga Asahan Jadi Korban Isi BBM di SPBU 1421107 P.Siantar yang Tercampur Air

MEDIA DIALOG NEWS, Pematang Siantar – Seorang Warga Kabupaten Asahan yang mengisi BBM di SPBU 141107 di Pematang Siantar jadi

Ketua BPD Talang Sakti Diduga Intimidasi Wartawan, Transparansi Pengelolaan Kebun Dipertanyakan

Ketua BPD Talang Sakti Diduga Intimidasi Wartawan, Transparansi Pengelolaan Kebun Dipertanyakan

MEDIA DIALOG NEWS, Mukomuko – Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Talang Sakti diduga tidak memahami tugas pokok dan fungsinya (tupoksi)

Anggaran Rp.2 Miliar, Paket e-Purchasing Paving Block Dinkes Asahan Diduga Langgar SNI dan Perpres 16/2018

Anggaran Rp.2 Miliar, Paket e-Purchasing Paving Block Dinkes Asahan Diduga Langgar SNI dan Perpres 16/2018

MEDIA DIALOG NEWS, Asahan – Data Rencana Umum Pengadaan (RUP) LKPP dan AMEL LPSE Kabupaten Asahan memuat 22 paket pekerjaan

AMPD Sampaikan Aspirasi dan Serahkan Laporan Dugaan Ketidakwajaran Anggaran ke Kejaksaan

AMPD Sampaikan Aspirasi dan Serahkan Laporan Dugaan Ketidakwajaran Anggaran ke Kejaksaan

MEDIA DIALOG NEWS, Kisaran — Dewan Pengurus Daerah Aliansi Mahasiswa Peduli Demokrasi (DPD AMPD) Kabupaten Asahan bersama sejumlah mahasiswa menyampaikan

Gemppar Asahan Geruduk Kantor Dinas Perikanan, Bupati, hingga Kejaksaan: Desak Kadis Mundur dan Usut Dugaan Korupsi

Gemppar Asahan Geruduk Kantor Dinas Perikanan, Bupati, hingga Kejaksaan: Desak Kadis Mundur dan Usut Dugaan Korupsi

MEDIA DIALOG NEWS, Kisaran, 18 Desember 2025 – Puluhan massa dari Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Peduli Reformasi (Gemppar) Asahan menggelar

TNI AL Kembali Siapkan KRI, Embarkasikan Logistik Hingga Tabung Gas Kebutuhan Masyarakat

TNI AL Kembali Siapkan KRI, Embarkasikan Logistik Hingga Tabung Gas Kebutuhan Masyarakat

MEDIA DIALOG NEWS, Jakarta - TNI AL kembali mengerahkan unsurnya, kali ini KRI Surabaya-591 tengah persiapan untuk mendistribusikan logistik, ke

Camat Popayato Barat Apresiasi Kegiatan Mahasiswa KKS-T IAIN Gorontalo

Camat Popayato Barat Apresiasi Kegiatan Mahasiswa KKS-T IAIN Gorontalo

MEDIA DIALOG NEWS, Pohuwato –  Camat Popayato Barat mengapresiasi kegiatan gebyar Ramadhan yang mengusung tema "Membentuk Kreativitas Generasi Islam di

Pembongkaran Pagar Sekolah Maitreyawira Kisaran Ditunda, Warga Kecewa   

Pembongkaran Pagar Sekolah Maitreyawira Kisaran Ditunda, Warga Kecewa  

MEDIA DIALOG NEWS, Kisaran – Pemerintah Kabupaten Asahan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) bersama Satuan Polisi Pamong

Mahasiswa Desak Sekda Kabupaten Asahan Mundur dari Ketua LPTQ

Mahasiswa Desak Sekda Kabupaten Asahan Mundur dari Ketua LPTQ

MEDIA DIALOG NEWS, Kisaran – Organisasi Pergerakan Mahasiswa (OPM) menggelar aksi unjuk rasa pada Senin, 21 April 2025, di kantor