Media Dialog News

Kajian Hukum terhadap Tindak Pidana Pembunuhan dan Pemerkosaan oleh Anak di Bawah Umur

MEDIA DIALOG NEWS – Kasus tindak pidana pembunuhan dan pemerkosaan yang dilakukan oleh anak di bawah umur kembali membuka ruang diskusi mengenai penerapan hukum pidana anak di Indonesia. Peristiwa ini tidak hanya mengguncang rasa kemanusiaan dan keadilan masyarakat, tetapi juga menantang sistem hukum dalam menyeimbangkan antara penegakan hukum, perlindungan korban, dan masa depan anak sebagai pelaku. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan anak di hadapan hukum serta mekanisme pertanggungjawaban pidana yang berlaku.

Kedudukan Anak dalam Sistem Hukum Pidana Indonesia

Dalam sistem hukum Indonesia, anak yang berhadapan dengan hukum memiliki kedudukan khusus sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA). Anak tetap dapat dimintai pertanggungjawaban pidana, namun dengan perlakuan yang berbeda dari orang dewasa. Prinsip utama yang digunakan adalah kepentingan terbaik bagi anak (the best interest of the child) serta pendekatan keadilan restoratif.

Penerapan sanksi pidana terhadap anak bersifat terbatas. Anak tidak dapat dijatuhi pidana mati maupun pidana penjara seumur hidup. Ancaman pidana yang dijatuhkan maksimal adalah setengah dari ancaman pidana bagi pelaku dewasa, dan pidana penjara ditempatkan sebagai upaya terakhir (ultimum remedium).

Tindak Pidana Pembunuhan oleh Anak di Bawah Umur

Tindak pidana pembunuhan merupakan kejahatan berat yang diatur dalam Pasal 338 dan Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Apabila perbuatan tersebut dilakukan oleh anak, maka ketentuan pemidanaannya tetap mengacu pada UU SPPA. Meskipun secara materiil unsur pembunuhan, bahkan pembunuhan berencana, dapat terpenuhi, namun penerapan sanksinya harus menyesuaikan dengan usia pelaku.

Dalam konteks ini, hukum pidana anak tidak semata-mata berorientasi pada penghukuman, tetapi juga pada pembinaan dan rehabilitasi. Hal ini mencerminkan pandangan bahwa tindak pidana yang dilakukan anak sering kali berkaitan dengan faktor lingkungan, keluarga, dan kurangnya pengawasan sosial.

Tindak Pidana Pemerkosaan oleh Anak Dibawah Umur

Pemerkosaan merupakan tindak pidana serius yang diatur dalam KUHP serta diperkuat oleh Undang-Undang Perlindungan Anak. Anak sebagai pelaku tetap dapat dimintai pertanggungjawaban pidana. Namun, proses hukum harus dilakukan dengan tetap memperhatikan perlindungan hak-hak anak, tanpa mengesampingkan hak dan perlindungan maksimal bagi korban.

Dalam praktiknya, sanksi yang dapat dijatuhkan tidak hanya berupa pidana, tetapi juga tindakan pembinaan, rehabilitasi psikologis, serta pendidikan moral dan sosial. Hukum memandang bahwa pencegahan dan pendidikan seksual yang benar merupakan bagian penting dalam menekan terjadinya kekerasan seksual yang dilakukan oleh anak.

Prinsip Keadilan Restoratif dalam Perkara Anak

UU SPPA menekankan pendekatan keadilan restoratif, yaitu penyelesaian perkara dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga, dan masyarakat untuk mencari penyelesaian yang adil. Namun demikian, untuk kejahatan berat seperti pembunuhan dan pemerkosaan, penerapan keadilan restoratif bersifat terbatas. Pertimbangan utama tetap pada rasa keadilan korban dan kepentingan umum, sehingga proses peradilan formal tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan.

Tanggung Jawab Negara dan Masyarakat

Negara memiliki tanggung jawab hukum untuk menjamin proses peradilan yang adil dan manusiawi bagi anak, memberikan perlindungan maksimal kepada korban, serta menyediakan sarana pembinaan dan rehabilitasi yang memadai. Di sisi lain, keluarga dan masyarakat juga memegang peran penting dalam melakukan pengawasan, pendidikan, dan pembentukan karakter anak agar tidak terjerumus dalam perilaku kriminal.

Penutup

Dari sudut pandang hukum, anak di bawah umur yang melakukan tindak pidana berat tetap bertanggung jawab secara hukum. Namun, perlakuan hukum terhadap anak berbeda dengan orang dewasa. Tujuan utama sistem peradilan pidana anak bukan semata-mata untuk menghukum, melainkan untuk membina, merehabilitasi, dan melindungi masa depan anak, tanpa mengabaikan hak dan keadilan bagi korban.

Penyusun:

  1. Danella Chaniago
  2. Bunga Aulia

Mahasiswa Hukum

Universitas Muhammadiyah Asahan

Untuk: menyelesaikan tugas akhir semester

Berita Terbaru

Video Terbaru

Placement tidak ditentukan.

Berita Lainnya

13 Warga Gugat Sahat Hamonangan atas Tanah Eks HGU PT. Bakrie: Mediasi Gagal, Persidangan Berlanjut

13 Warga Gugat Sahat Hamonangan atas Tanah Eks HGU PT. Bakrie: Mediasi Gagal, Persidangan Berlanjut

MEDIA DIALOG NEWS, Kisaran (12 Oktober 2025) — Sebanyak 13 warga Kelurahan Sei Renggas, Kecamatan Kota Kisaran Barat, Kabupaten Asahan,

Munas dan Reuni Akbar Kawima Digelar 19 Oktober 2024 di Yogyakarta

Munas dan Reuni Akbar Kawima Digelar 19 Oktober 2024 di Yogyakarta

MEDIA DIALOG NEWS, Yogyakarta - Keluarga Alumni Universitas Widya Mataram (KAWIMA) akan mengadakan perhelatan Musyawarah Nasional dan Reuni Akbar pada

Fithrat Irfan Rilis 95 Nama Senator DPD RI yang Diduga Terlibat Suap Pemilihan Pimpinan DPD dan Wakil Ketua MPR

Fithrat Irfan Rilis 95 Nama Senator DPD RI yang Diduga Terlibat Suap Pemilihan Pimpinan DPD dan Wakil Ketua MPR

MEDIA DIALOG NEWS, Jakarta – Aktivis muda sekaligus mantan staf ahli anggota DPD RI, Muhammad Fithrat Irfan, mengungkapkan dugaan praktik

Sekcam Pulobandring Asahan dilapor ke Polres Asahan Terkait Pasal Penipuan

Sekcam Pulobandring Asahan dilapor ke Polres Asahan Terkait Pasal Penipuan

MEDIA DIALOG NEWS, Kisaran – Sekretaris Camat (Sekcam) Kecamatan Pulau Bandring Asahan inisial BCDS dilaporkan ke Polres Asahan oleh dua

Dugaan Korupsi Dana Hibah Rp.52,5 Miliar di KONI Asahan: Oknum DPRD Terlibat, 37 Cabor Disorot

Dugaan Korupsi Dana Hibah Rp.52,5 Miliar di KONI Asahan: Oknum DPRD Terlibat, 37 Cabor Disorot

MEDIA DIALOG NEWS, Kisaran - Oknum anggota DPRD Kabupaten Asahan diduga terlibat dalam meloloskan anggaran dana hibah untuk Komite Olahraga

Kritikan Pedas Ketua Umum PERMASI Asahan kepada Dinas Kesehatan Terkait Permintaan Foging

Kritikan Pedas Ketua Umum PERMASI Asahan kepada Dinas Kesehatan Terkait Permintaan Foging

MEDIA DIALOG NEWS, Kisaran - Ketua Umum DPP Perhimpunan Mahasiswa Asahan seluruh Indonesia (PERMASI), Muhammad Seto Lubis, menyampaikan kritiknya kepada

Dugaan Korupsi Dana Penanggulangan Covid 19 di Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan Pernah diarahkan KPK ke Kejaksaan Negeri Kisaran

Dugaan Korupsi Dana Penanggulangan Covid 19 di Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan Pernah diarahkan KPK ke Kejaksaan Negeri Kisaran

MEDIA DIALOG NEWS, Kisaran – Tim investigasi dialogberita.com dan mediadialognews.com menemukan adanya dokumen pelimpahan (tidak langsung, red) dari KPK ke

Gemppar Asahan Geruduk Kantor Dinas Perikanan, Bupati, hingga Kejaksaan: Desak Kadis Mundur dan Usut Dugaan Korupsi

Gemppar Asahan Geruduk Kantor Dinas Perikanan, Bupati, hingga Kejaksaan: Desak Kadis Mundur dan Usut Dugaan Korupsi

MEDIA DIALOG NEWS, Kisaran, 18 Desember 2025 – Puluhan massa dari Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Peduli Reformasi (Gemppar) Asahan menggelar

Forum Bersama IKN Siap Menyisihkan Dana Bulanan untuk Seragam Sekolah Anak Indonesia, Terinspirasi Arahan Prabowo

Forum Bersama IKN Siap Menyisihkan Dana Bulanan untuk Seragam Sekolah Anak Indonesia, Terinspirasi Arahan Prabowo

MEDIA DIALOG NEWS - Terinspirasi oleh pidato Presiden Prabowo Subianto dalam acara Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) 2 November 2024 pengurus

Dewan Pengupahan Sepakati dan Tetapkan UMK Kabupaten Asahan Tahun 2025 Menjadi Rp.3.265.908,21, Naik sebesar Rp.199.327,7 dari Tahun Sebelumnya

Dewan Pengupahan Sepakati dan Tetapkan UMK Kabupaten Asahan Tahun 2025 Menjadi Rp.3.265.908,21, Naik sebesar Rp.199.327,7 dari Tahun Sebelumnya

MEDIA DIALOG NEWS, Kisaran – Dewan Pengupahan Kabupaten Asahan yang terdiri dari unsur Serikat Pekerja, Serikat Buruh dan Asosiasi Pengusaha