MEDIA DIALOG NEWS, Lampung Timur – Harapan warga Kecamatan Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur, untuk memiliki akses penghubung yang layak masih jauh dari kenyataan. Jembatan Kali Pasir yang digadang-gadang menjadi urat nadi aktivitas masyarakat justru mangkrak bertahun-tahun tanpa kejelasan penyelesaian.
Sejak dibangun pada 2018 dengan nilai anggaran mencapai Rp29 miliar, proyek ini tak kunjung rampung. Informasi yang beredar menyebutkan, jembatan tersebut telah berganti kontraktor hingga tiga kali. Ironisnya, salah satu kontraktor bahkan sempat tersandung kasus hukum terkait dugaan korupsi proyek ini. Kini, yang tersisa hanya tiang beton dan rangka besi berkarat, berdiri bisu di tengah aliran sungai.
Akibatnya, setiap hari para siswa dan guru harus menyeberangi Sungai Kali Pasir dengan perahu dayung demi bisa bersekolah. Pemandangan ini telah berlangsung bertahun-tahun, menjadi rutinitas yang memprihatinkan. Saat musim hujan tiba, debit air meningkat drastis dan penyeberangan menjadi sangat berbahaya. Tak jarang anak-anak memilih tidak berangkat sekolah karena takut terseret arus.
“Kalau banjir, anak-anak tidak berani sekolah. Kami khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” ujar seorang warga, Jumat (30/1/2026).
Warga menilai kondisi ini bukan sekadar persoalan akses, melainkan soal keselamatan generasi muda. Mereka mendesak pemerintah daerah maupun pusat untuk segera mencari solusi nyata. Bahkan, masyarakat berharap Presiden Prabowo Subianto turun tangan agar jeritan warga Way Bungur dapat terdengar.
“Jembatan ini bukan hanya bangunan, tapi penyambung hidup kami. Kami butuh kepastian, kapan jembatan ini selesai,” tegas warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, Jembatan Kali Pasir masih terbengkalai. Sementara di seberangnya, para guru dan siswa tetap berjuang, berdayung melawan arus demi pendidikan—menunggu hadirnya keadilan yang selama ini terasa jauh dari jangkauan.(Sugi-Red PPWI)

