MEDIA DIALOG NEWS, Saumlaki – Selama lebih dari dua dekade, masyarakat Kecamatan Wuarlabobar, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, hidup dalam keterisolasian. Bukan karena mereka tinggal di pulau terluar, melainkan karena hingga kini belum ada jalur darat yang menghubungkan wilayah itu dengan pusat pemerintahan dan ekonomi.
Satu-satunya akses menuju Kota Larat di Kecamatan Tanimbar Utara maupun Ibu Kota Kabupaten Saumlaki hanya melalui jalur laut, termasuk lewat Desa Batu Putih. Kondisi ini membuat masyarakat bergantung sepenuhnya pada transportasi laut, yang setiap musim barat—Desember hingga April bahkan menjelang Mei—sering lumpuh akibat cuaca ekstrem.
“Ketika gelombang tinggi dan angin kencang datang, laut bukan lagi jalur penghubung, melainkan tembok pemisah. Ekonomi berhenti, kebutuhan pokok tersendat, akses kesehatan terhambat, pendidikan terganggu, dan urusan pemerintahan tak terjangkau,” ungkap salah satu tokoh masyarakat Wuarlabobar.
Harapan Warga
Sejak pemekaran Kabupaten Kepulauan Tanimbar dari Maluku Tenggara Barat, kondisi Wuarlabobar nyaris tidak berubah. Pemekaran yang diharapkan membawa pelayanan lebih dekat justru meninggalkan wilayah ini dalam keterisolasian berkepanjangan.
Warga menegaskan, harapan mereka tidak berlebihan. Mereka tidak meminta proyek mercusuar, melainkan jalan darat penghubung Siwahan–Wuarlabobar sebagai akses dasar. “Kami hanya ingin keluar dari penderitaan tahunan yang selalu berulang. Jalan darat adalah solusi logis, manusiawi, dan berkelanjutan,” kata warga lainnya.
Pembangunan jalan darat dinilai sebagai ujian komitmen pemerintah daerah terhadap pemerataan. Jika pembangunan adalah tentang keadilan, maka Wuarlabobar adalah cermin ketimpangan itu. Jika pemerintah berbicara soal pemerataan, maka wilayah ini menjadi tolok ukur kejujuran komitmen tersebut.
Masyarakat menegaskan, mereka tidak butuh janji berulang. Yang dibutuhkan adalah keberanian kebijakan dan keberpihakan anggaran. Menyelesaikan jalan penghubung Siwahan–Wuarlabobar bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan tindakan moral untuk membebaskan rakyat dari keterasingan yang seharusnya bisa diakhiri. (Randy Fenan)

